Rabu, 19 Okt 2016 - 14:26:00 WIB - Viewer : 3340

Ahok, Pilgub DKI, dan Perang Media

Analisis : Feri Yuliansyah

“Pers adalah cermin. Jangan sekali-kali mempercayai cermin!” 

Mediamasa mainstream menjadi hiruk pikuk belakangan ini, dan di prediksi akan semakin hiruk pikuk menjelang Pemilihan Gubernur DKI Jakarta. Begitu banyak proganda dan opini ber-seliweran atas nama berita, untuk menguasai pikiran orang banyak.

Kondisi crowded dan simpang siur berita ini ditambah lagi dengan hadirnya media (berita) online yang sengaja diciptakan untuk menyiarkan propanda, kampanye negatif, dan bahkan informasi fitnah, yang semakin seolah sempurna dengan sharing, posting, comment, debat, dan pembenaran melalui linimasa di akun jejaring sosial yang ramai seperti facebook, twitter, instagram, dan whatsapp.

Bakal calon Gubernur DKI yang sudah muncul meramaikan media sejak lama adalah sang petahana, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Calon yang lain baru meramaikan linimasa sejak ada kepastian maju dalam pilkada DKI pada pertengahan September lalu.

Bagi penggiat media masa, tentunya akan paham betul apa yang dinasehatkan oleh John Osborne dalam narasi sandiwara “The Hotel in Amsterdam”. Kata Osborne,“Pers adalah cermin. Jangan sekali-kali mempercayai cermin!”  

Nasihat John Osborne menjadi relevan pada tiga tahun terakhir, dimana begitu banyaknya perang propanda dan media war yang sebagian menyesampingkan kebenaran dan keakuratan berita, hanya demi mendukung pembenaran opini, framing, dan propaganda media yang bersangkutan yang dikemas dengan apik sebagai berita dan talk-show ditelevisi, dan berita headline di media mainstream, yang disambung penyebarannya melalui media online yang kemudian didukung pembenaran beritanya melalui comment  dan viral di medsos oleh para pendukung dan terutama para buzzer yang berseliweran.

Dalam kondisi ini, meskipun saya dan anda yang membaca tulisan ini bukan penduduk DKI dan tidak memiliki hak pilih, namun suka atau tidak suka, perang media di Pilgub DKI akan mencuri dan menyita perhatian banyak masyarakat Indonesia, yang melarutkan emosi dan perasaan kita dalam perdebatan dukung mendukung calon gubernur DKI, termasuk saya sendiri. Pilgub DKI Jakarta ini menurut saya adalah pilgub rasa pilpres.

Walapun ada 3 calon pasangan yang mendaftar pada Pilgub DKI ini, namun sejatinya, pemilihan Gubernur DKI ini hanya ada dua kubu, yaitu kubu pro-Ahok dan kubu kontra-Ahok. Hasil survey yang menempatkan kedua kubu ini dalam jumlah yang seimbang, 50 : 50, maka perang opini pun semakin sukar terelakan.

Sukar untuk dibantah juga bahwa nuansa agama dan etnik sangat terasa dalam Pilgub DKI ini. Suka atau tidak suka, masalah agama atau etnik akan terbawa-bawa pula atau tersangkut-sangkut di dalam Pilgub DKI ini. Anda boleh setuju atau tidak setuju dengan pendapat saya ini, tapi itulah realitas yang terjadi, dan hal itu sudah dibuktikan dari berbagai survei Pilkada bahwa masalah suku dan agama ikut berperan dalam menentukan pilihan seseorang.

Sudah Bukan rahasia lagi, saat ini kondisi dukung mendukung media berdasarkan etnis dan agama pun turut terjadi walaupun banyak media mainstream tidak akan mengakui hal itu.

Analisis saya, hampir dapat dipastikan bahwa mayoritas pemilih non-muslim atau etnis Tionghoa akan berada di belakang Ahok, yang di ikuti oleh media-media yang mereka miliki. Indikasinya dapat dilihat pada berita-berita yang lebih condong kepada calon petahana ini, dan juga komentar-komentar pendukungnya di media berita daring atau diskusi-diskusi di jejaring sosial. Dari nama komentator kita dapat menebak agama atau etniknya apa. Sentimen agama dan etnis atau merasa kelompok minoritas sangat berperan sebagai alasan mendukung Ahok, meskipun tidak dipungkiri juga alasan lain seperti kinerja Ahok yang dianggap cukup memuaskan bagi sebagian kalangan. Ahok dianggap pejuang anti korupsi, dan blak-blakan.

Sebaliknya, pemilih muslim terbagi menjadi dua, ada yang mendukung Ahok dan ada pula yang tidak menyukai Ahok. Begitu pula media yang diusung dan diinisiasi oleh muslim.

Pemilih muslim yang mendukung Ahok memiliki alasan yang  sama seperti anggapan yang saya sebutkan diatas. Sedangkan pemilih muslim yang tidak mendukung Ahok memiliki berbagai alasan, misalnya karena alasan agama, sikap Ahok yang arogan, perkataan Ahok yang kasar, kebijakan Ahok yang dianggap suka menggusur masyarakat kecil demi mendukung cukong, melegalisasi miras dan berencana membuat lokalisasi pelacuran, dan sebagainya.

Kondisi dukung-mendukung ini kerap membuat masyarakat yang mendukung seolah membenarkan apapun berita media yang sesuai pendapat mereka dan membagikannya ke media sosial dan terkadang tanpa mnegcek lagi kebenaran berita tersebut. Kondisi yang sangat rawan dimanfaat oleh para pemilik media pendukung untuk melakukan propanda dan bahkan sampai kepada berita fitnah hanya demi mendukung opini dan argumentasi yang disampaikan dalam kemasan berita.

Media seolah telah menguasai pikiran dan opini masyarakat indonesia, bahkan lembaga-lembaga yang harusnya dihormati argumentasinya seperti MUI, ikut terkena imbas berita propaganda karena menfatwakan tentang penistaan agama terhadap calon petahana, walaupun pendapat tersebut tidak berhubungan langsung dengan pilkada DKI, namun perang media membuatnya masuk ke dalam pusaran konflik.

Termasuk juga berita yang menarik gubernur papua, lukas enembe, dalam pusaran konflik, yang akan menuntut papua merdeka jika ahok tidak dibolehkan mencalon pilkada DKI. Berita bohong yang akhirnya ditepis dan ditolak oleh Gubernur Papua itu sendiri.

Terakhir, dalam pusaran media war saat ini, sebaiknya masyarakat pendukung tidak memposting atau membagikan berita-berita propaganda yang kebenarannya diragukan, atau berita opini yang menyatu dalam isi berita, dari media-media pendukung baik itu media mainstream atau media lainnya, karena hal ini, suka atau tidak suka, akan semakin memperuncing konflik horizontal dimasyarakat yang pada ujungnya dapat berakibat pada konflik langsung dan adu domba.

Komentar Berita