Sabtu, 25 Jul 2015 - 14:05:00 WIB - Viewer : 9076

Anggota DPR RI : Harusnya Harga BBM Segera Turun

Ketua Komisi VI DPR RI, Achmad Hafisz Tohir (www.dpr.go.id)

AMPERA.CO, Jakarta - Ketua Komisi VI DPR RI, Achmad Hafisz Tohir mengatakan pemerintah perlu segera menurunkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) karena anjloknya harga minyak dunia ke kisaran 50 dolar AS/barel dan adanya potensi penurunan harga beberapa waktu ke depan.

"Dengan kebijakan pemerintah yang telah mencabut subsidi BBM dan menggunakan mekanisme pasar, maka pemerintah wajib mengevaluasi kembali harga BBM dari harga yang ditetapkan saat ini," kata Hafisz seperti dilansir antara, Rabu (22/7).

Hafisz juga mendesak penurunan harga BBM, karena langkah tersebut diperlukan untuk memulihkan daya beli masyarakat dan menggerakkan konsumsi di tengah perlambatan ekonomi.

Ke depannya, ujar Hafisz, harga minyak dunia juga cenderung turun, mengingat potensi melunaknya sanksi perdagangan terhadap Iran, setelah kesepakatan negara tersebut dengan enam negara besar yakni Amerika Serikat, Prancis, Inggris, Tiongkok, Rusia dan Jerman mengenai pemanfaatan nuklir.

Setelah kesepakatan tersebut, harga minyak dunia menurun, karena faktor psikologis masuknya Iran akan meningkatkan pasokan minyak global.

Mengutip laporan Kantor Berita AFP akhir pekan lalu, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk penyerahan Agustus anjlok 1,63 dolar AS menjadi ditutup pada 51,41 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

Sementara, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Agustus, patokan global, menetap di 56,86 dolar AS per barel di perdagangan London, turun 1,65 dolar AS.

Terkait penyesuaian harga BBM, pada Mei 2015 lalu sebelum terjadinya kesepakatan Iran, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Sudirman Said, mengatakan akan memantau perkembangan harga minyak sampai Oktober 2015 sebelum memutuskan periodisasi evaluasi harga BBM pada November 2015.

Pada November 2015, pemerintah akan memutuskan periodisasi evaluasi harga BBM apakah dalam tiga, enam, atau berapa bulan sekali.

"Saya kira Oktober sudah terlihat kecenderungan harga minyak ke depan seperti apa. Jadi, database untuk menyimpulkan ke depan sudah lebih lengkap," ujarnya.

Feri Y

Antara