Kamis, 16 Nov 2023 - 15:56:00 WIB - Viewer : 628

Berkearifan Lokal melalui Seni Budaya OKI dalam Menyusun Bahan Ajar Interaktif Berdifferensiasi

Oleh : Novika Sukmaningthias, M. Yusup, Ely Susanti, Ruth Helen Simarmata, Hendra Lesmana, Irinna Aulia Nafrin, Amrina Rosyada, Yona Balqiyah, Fadhillah Oktariani, Kristiana Kharina, Fitriani, Wajiyah, Aisyah Khumairoh, dan Dewi Rawani

Semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin tinggi pula budaya yang dimiliki orang tersebut. Hal itu dikarenakan budaya mencakup semua unsur kehidupan manusia sehingga pendidikan yang termasuk ke dalam unsur kehidupan manusia juga ada dalam kebudayaan. Namun menjadi suatu hal yang perlu diingat, bahwasanya budaya hanya bisa dibentuk oleh pendidikan.

Budaya merupakan hasil dari pemikiran, perasaan dan karya manusia baik secara individu maupun kelompok. Tujuan berbudaya ialah untuk meningkatkan atau mengembangkan kehidupan manusia. Contoh dalam bentuk konkret dari budaya misalnya: mobil, bangunan rumah, dan segala bentuk tindakan yang mengandung seni seperti cara duduk, cara menerima tamu, dll. Budaya yang bentuknya abstrak misalnya cara berpikir ilmiah, cita-cita, kemampuan untuk menciptakan sesuatu, dll.

Pemerintah telah mengupayakan untuk melestarikan kebudayaan lokal di setiap daerah melalui pendidikan. Hal ini terbukti dengan adanya mata pelajaran yang berkaitan dengan kebudayaan seperti mata pelajaran seni budaya. Namun, alokasi waktu dalam mata pelajaran seni budaya dan kesenian maupun pelaksanaannya bahkan walau dalam Kurikulum Merdeka terdapat Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dirasa masih belum maksimal dalam pengimplementasiannya. Salah satu cara yang dirasa efektif agar budaya dalam menjadi bagian dari pendidikan yakni dengan menyisipkan unsur budaya pada mata pelajaran yang memiliki alokasi waktu lebih panjang, yang salah satunya ada pada mata pelajaran matematika. Tujuan lain dari penyisipan ini adalah agar peserta didik mampu menghargai budaya yang ada di lingkungannya. Oleh karena itu, perlu dikembangkan pembelajaran matematika berbasis kearifan lokal atau budaya.

Menurut Guidelines for Bibliographic Description of Interactive Multimedia, bahan ajar interaktif adalah kombinasi dari dua atau lebih media (audio, teks, grafik, gambar, dan video) yang oleh penggunanya dimanipulasi untuk mengendalikan perintah dan atau perilaku alami dari suatu presentasi. Oleh karena itu, akan terjadi hubungan dua arah antara bahan ajar dan penggunanya sehingga peserta didik dapat terdorong untuk bersikap aktif. Prastowo menyatakan bahwa, pada dasarnya bahan ajar interaktif dapat ditemukan dalam dua bentuk, yaitu CD interaktif dan orang. CD interaktif jika dilihat dari proses pembuatan dan penggunaannya tidak pernah terlepas dari perangkat komputer. Bahan ajar interaktif berdiferensiasi yang disusun dalam kegiatan tersebut dikemas dalam smartphone agar lebih praktis dan lebih mudah dalam penggunaannya.

Menurut Carol Tomlinsen Ann, Pembelajaran Berdiferensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas dalam rangka memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid. Pembelajaran berdiferensiasi merupakan serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid. Menurut Marlina pembelajaran berdiferensiasi merupakan penyesuaian terhadap minat, kecenderungan belajar, kesiapan siswa agar tercapai peningkatan hasil belajar. Pembelajaran berdiferensiasi bukanlah pembelajaran yang bersifat individual, namun lebih cenderung pembelajaran yang mengakomodir kekuatan dan kebutuhan belajar siswa dengan strategi belajar yang independen. Saat guru merespon kebutuhan belajar siswa, berarti guru mendiferensiasikan pembelajaran dengan menambah, memperluas, menyesuaikan waktu untuk memperoleh hasil belajar yang maksimal.

Berdasarkan wawancara diperoleh informasi bahwa kemampuan matematis peserta didik masih rendah. Rendahnya kemampuan matematis dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu, pembelajaran yang masih berorientasi pada guru, lemahnya kemampuan dan minat peserta didik terhadap pembalajaran matematika, dan minimnya penggunaan bahan ajar di dalam proses pembelajaran, peserta didik bersikap pasif pada saat pembelajaran. Perlu adanya bahan ajar yang membantu mereka di dalam proses pembelajaran. Akan tetapi, keterampilan guru-guru dalam membuat bahan ajar masih sangat kurang khususnya bahan ajar yang interaktif.  Guru sama sekali tidak paham bagaimana cara membuatnya. Terlebih apabila bahan ajar harus disusun dalam pembelajaran yang berdiferensiasi. Hal ini sesuatu yang sangat asing bagi mereka dan tidak pernah dilakukan oleh guru-guru. Biasanya guru-guru hanya menggunakan model pembelajaran konvensional.

Beberapa guru meminta FKIP Unsri untuk mengatasi hal tersebut. Tim Pengabdian kepada Masyarakat dibentuk untuk mejawab permintaan kebutuhan guru-guru tersebut dengan menghadirkan Dosen-Dosen Pendidikan Matematika FKIP Unsri untuk mendampingi dalam pembuatan bahan ajar interaktif berbasis budaya Ogan Komering Ilir. Situasi ini bertepatan dengan tema penelitian dosen-dosen Pendidikan Matematika FKIP Unsri yang telah banyak melakukan penelitian dan pengembangan bahan ajar terkait budaya. Penelitian dan pengabdian dilakukan dengan menggunakan pendekatan Realistic Mathematics Education (RME) yaitu sebuah pendekatan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari peserta didik dan budaya masyarakat sekitar. Dosen-dosen Pendidikan Matematika Unsri juga sudah pernah melakukan kegiatan pengabdian dalam bentuk webinar pembelajaran berdiferensiasi di MGMP Kota Kayu Agung. Namun, guru-guru merasa belum cukup sehingga mereka meminta pendampingan lanjutan dari kegiatan webinar tersebut yang dilaksanakan di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).

Kabupaten OKI merupakan kabupaten terluas di Sumatera Selatan dengan luas yang mencapai 19.023,47 km² dan berpenduduk sekitar 731.721 jiwa. Per tahun 2020, kabupaten OKI memiliki 18 Kecamatan yang terdiri atas 314 desa beserta 13 kelurahan. Secara administratif, Kabupaten OKI berbatasan dengan Kabupaten Banyuasin dan Kabupaten Ogan Ilir serta Kota Palembang di sebelah Utara; Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur dan Propinsi Lampung di sebelah Selatan; Kabupaten Ogan Ilir dan Kabupaten OKU Timur di sebelah Barat, dan; Selat Bangka dan Laut Jawa di sebelah Timur.

Pendampingan pembuatan bahan ajar interaktif berdiferensiasi secara luring di Kab. OKI dilakukan pada sejak tanggal 12 Agustus 2023 ini diikuti oleh 25 peserta yang terdiri dari guru-guru SMK di Kabupaten OKI. Sebanyak 5 orang dosen dan 9 orang mahasiswa mendampingi guru-guru dalam membuat bahan ajar interaktif berdiferensiasi tersebut. Diketahui bahwa sebanyak 21 orang yang dapat menyusun produknya dan 4 lainnya masih dalam pengerjaan. Sebagai tindak lanjut kegiatan, guru-guru sudah mencoba menggunakan produk yang dihasilkan tersebut di sekolah masing-masing.

Beberapa testimoni yang disampaikan menyatakan bahwa pendampingan sejenis perlu banyak dilakukan agar guru-guru mendapatkan informasi dan keterampilan baru dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran di kelas. Berdasarkan survei pelaksanaan diketahui juga bahwa sebagian besar guru terbantu dan teredukasi oleh adanya pendampingan yang dilakukan oleh dosen-dosen dibantu mahasiswa. Guru-guru juga merasa percaya diri dan mampu untuk menyusun bahan ajar interaktif berdiferensiasi menggunakan konteks budaya OKI lainnya.

Terlihat bahwa pemanfaatan bahan ajar interaktif berdiferensiasi yang berkearifan lokal itu sangat penting dan sesuai dengan tujuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang mengintegrasikan Pendidikan dan budaya. Pengembangan bahan ajar interaktif berdiferensiasi yang berkearifan lokal dapat digunakan dalam jangka panjang. Selagi budaya tersebut masih ada, pengembangan bahan ajar yang berkaitan dengan budaya menjadi suatu hal yang niscaya, dan pelestarian budaya melalui penyisipan pada mata Pelajaran tertentu dan secara khusus dilakukan pada saat pembuatan bahan ajar interaktif berdiferensiasi juga menjadi pilihan solusi efektif yang menjadi suatu keharusan. Semoga semakin banyak guru yang mampu menyusun bahan ajar interaktif berdiferensiasi berkearifan lokal dapat berdampak pada peningkatan mutu Pendidikan khususnya di Sumatera Selatan. Kita perlu yakin bahwa tidak ada hasil yang mengkhianati usaha.

 

Penulis Dosen di Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UNSRI

    Simak Berita lainnya seputar topik artikel ini :