Minggu, 01 Okt 2023 - 17:56:00 WIB - Viewer : 2892

Buat e-modul pembelajaran berdiferensiasi untuk mengukur prior knowledge siswa, Emang Bisa?

Oleh : Saparini; Syuhendri; Nely Andriani; Melly Ariska

IST

Pembelajaran berdiferensiasi adalah pendekatan yang digunakan di sekolah untuk memenuhi kebutuhan belajar yang beragam dari siswa-siswa dalam kelas yang sama. Tujuan dari pembelajaran berdiferensiasi adalah untuk mengakomodasi perbedaan dalam gaya belajar, tingkat kemampuan, minat, dan kebutuhan siswa sehingga mereka dapat mencapai potensi maksimal mereka. Terdapat dua hal yang akan dibahas di tulisan ini, pertama, apakah prior knowledge diagnostic test perlu dilakukan untuk merencanakan pembelajaran berdiferensiasi?, kedua, apakah e-modul (modul elektronik) dalam pembelajaran berdiferensiasi dapat digunakan untuk mengukur prior knowledge siswa?

Pengujian pengetahuan sebelumnya (prior knowledge diagnostic test) adalah alat yang digunakan oleh pendidik untuk mengidentifikasi pengetahuan dan pemahaman awal siswa tentang topik tertentu sebelum memulai pelajaran atau unit pembelajaran. Tujuan utama dari pengujian ini adalah untuk mengukur pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman yang telah dimiliki siswa sebelumnya tentang topik yang akan dipelajari. Dengan menilai pengetahuan awal siswa, guru dapat merencanakan pembelajaran yang lebih sesuai dan efektif, serta memungkinkan berbagai tingkat pemahaman dalam kelas yang berbeda.

Dengan mengetahui apa yang sudah diketahui siswa sebelumnya, guru dapat menyesuaikan materi pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan individu mereka. Ini memungkinkan adanya pembelajaran yang lebih berdiferensiasi. Selain itu, prior knowledge diagnostic test dapat membantu guru mengidentifikasi kesalahan konseptual yang mungkin telah dibentuk oleh siswa sebelumnya. Hal ini memungkinkan guru untuk memperbaiki pemahaman yang salah sejak awal, sehingga dapat mengindari pengajaran berulang dan menghemat waktu untuk materi baru.

Hasil prior knowledge diagnostic test dapat membantu guru memutuskan apakah diperlukan pendekatan pembelajaran yang berbeda, seperti penggunaan sumber daya tambahan atau penyajian informasi dengan cara yang berbeda. Dengan memasukkan pengalaman dan pengetahuan siswa dalam proses pembelajaran, siswa mungkin lebih terlibat dan merasa lebih terhubung dengan materi pelajaran. Selain itu,  prior knowledge diagnostic test juga dapat digunakan sebagai alat untuk mengevaluasi kemajuan siswa selama dan setelah pembelajaran, sehingga guru dapat melihat sejauh mana siswa telah berkembang. Untuk melaksanakan prior knowledge diagnostic test, guru dapat menggunakan berbagai alat seperti tes tertulis, kuesioner, diskusi kelompok kecil, atau bahkan percakapan individu dengan siswa. Hasil dari tes ini harus digunakan dengan bijak untuk merencanakan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan individu siswa.

Pembelajaran berdiferensiasi adalah pendekatan pembelajaran yang didesain untuk memenuhi kebutuhan individu siswa yang beragam dalam kelas. Prior knowledge diagnostic test adalah salah satu alat yang dapat membantu dalam menerapkan pembelajaran berdifferensiasi dengan lebih efektif karena memberikan wawasan tentang tingkat pengetahuan awal siswa yang berbeda. Dengan demikian, guru dapat merencanakan aktivitas pembelajaran yang sesuai dengan tingkat pengetahuan dan kemampuan masing-masing siswa dalam kelas yang sama.

Guru memiliki peran yang sangat penting dalam menyiapkan dan menggunakan prior knowledge diagnostic test. Pertama, Guru harus memutuskan tujuan pengujian pengetahuan sebelumnya. Apakah tujuannya untuk mengukur pemahaman umum siswa tentang topik tertentu atau untuk mengidentifikasi pemahaman khusus yang mereka miliki? Tujuan pengujian akan membantu guru merancang pertanyaan dan aktivitas yang sesuai. Kedua, Guru perlu merancang pertanyaan atau aktivitas yang relevan dengan topik yang akan dipelajari. Pertanyaan-pertanyaan ini harus dirancang sedemikian rupa sehingga dapat mengungkap pengetahuan dan pemahaman siswa tentang konsep-konsep yang berkaitan. Ketiga, Guru harus memilih format pengujian yang sesuai dengan tujuan dan konteks pembelajaran. Pengujian bisa berupa tes tertulis, kuis, wawancara, diskusi kelompok, atau bahkan tugas proyek, tergantung pada apa yang dianggap paling efektif. Keempat, Guru perlu mempertimbangkan waktu yang tersedia untuk pengujian pengetahuan sebelumnya dan memastikan bahwa pengujian tersebut dapat dilakukan dalam batas waktu yang ada dalam jadwal pelajaran. Kelima, Guru harus menguji pengujian pengetahuan sebelumnya secara internal atau dengan kolaborasi dengan rekan guru lainnya. Ini membantu memastikan bahwa pengujian tersebut relevan, adil, dan dapat mengukur pengetahuan yang diinginkan. Keenam, Saat mengadministasi pengujian, guru harus memberikan petunjuk yang jelas kepada siswa tentang apa yang diharapkan dari mereka dan bagaimana mereka harus menjawab pertanyaan atau melaksanakan aktivitas. Ketujuh, Setelah pengujian selesai, guru harus menganalisis hasilnya. Ini mencakup mengidentifikasi pola jawaban siswa, kesalahan umum, serta pemahaman awal yang ada. Analisis ini akan membantu guru dalam perencanaan pembelajaran selanjutnya.

Berdasarkan hasil pengujian, guru dapat merencanakan pembelajaran yang berdiferensiasi dengan mempertimbangkan tingkat pengetahuan awal siswa yang berbeda. Ini bisa mencakup penggunaan sumber daya tambahan, penyajian informasi dengan cara yang berbeda, atau pengaturan kelompok belajar yang sesuai. Guru dapat menggunakan hasil pengujian pengetahuan sebelumnya sebagai umpan balik kepada siswa. Ini dapat membantu siswa memahami tingkat pengetahuan mereka dan mengapa pembelajaran tentang topik tersebut penting. Dalam semua tahapan ini, komunikasi dan interaksi dengan siswa juga sangat penting. Guru harus menciptakan lingkungan yang mendukung siswa untuk merasa nyaman dan termotivasi dalam menjalani pengujian pengetahuan sebelumnya.

Pertanyaan selanjutnya apakah e-modul (modul elektronik) dalam pembelajaran berdiferensiasi dapat digunakan untuk mengukur prior knowledge siswa? Penggunaan e-modul dalam pembelajaran berdiferensiasi dan untuk mengukur prior knowledge (pengetahuan sebelumnya) siswa bisa sangat efektif. E-modul adalah materi pembelajaran yang disajikan dalam format digital yang dapat diakses secara online maupun offline. Guru dapat menyusun e-modul yang berisi kuis atau tes singkat untuk mengukur pengetahuan awal siswa tentang topik yang akan dipelajari. Tes ini dapat dirancang dengan berbagai tingkat kesulitan sehingga siswa dengan tingkat pengetahuan yang berbeda dapat diidentifikasi. Hasil tes ini dapat membantu guru dalam merancang pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan individu siswa.

E-modul dapat digunakan sebagai bahan prapembelajaran yang diberikan kepada siswa sebelum memulai pelajaran utama. Modul ini dapat berisi ringkasan konsep-konsep dasar yang akan dibahas dalam pelajaran, serta sumber daya tambahan seperti video, artikel, atau tautan ke sumber-sumber eksternal yang relevan. Siswa dengan pengetahuan awal yang berbeda dapat memilih sejauh mana mereka ingin mengeksplorasi materi prapembelajaran ini.

Guru dapat menciptakan e-modul yang memiliki berbagai tingkat materi, soal-soal latihan, atau aktivitas tambahan. Siswa yang memiliki pengetahuan awal yang lebih tinggi dapat mengakses materi yang lebih canggih, sementara siswa yang membutuhkan bantuan lebih dapat fokus pada materi dasar. E-modul ini memungkinkan siswa untuk belajar sesuai dengan tingkat mereka sendiri. Selain itu, e-modul dapat diakses oleh siswa secara online maupun offline, yang memungkinkan mereka untuk belajar kapan saja dan di mana saja sesuai dengan preferensi masing-masing. Ini dapat mendukung pembelajaran mandiri dan memungkinkan siswa untuk mengaturnya sesuai dengan ritme pembelajaran mereka.

Guru dapat menggunakan e-modul untuk memantau kemajuan siswa secara online. Hal ini memungkinkan guru untuk melihat bagaimana siswa bekerja melalui materi, berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk setiap bagian, dan hasil dari latihan yang diberikan. Informasi ini dapat digunakan untuk memandu instruksi lebih lanjut. Oleh sebab itu, e-modul dapat memberikan umpan balik otomatis kepada siswa setelah mereka menyelesaikan tugas atau tes. Ini memungkinkan siswa untuk segera melihat bagaimana mereka berhasil dan di mana mereka mungkin perlu meningkatkan pemahaman mereka. E-modul juga dapat digunakan untuk mendukung kolaborasi antara siswa. Ini dapat dilakukan melalui fitur-fitur seperti forum online, proyek kelompok, atau kolaborasi pada dokumen digital.

Penggunaan e-modul dalam pembelajaran berdiferensiasi dan pengukuran prior knowledge memiliki banyak manfaat, termasuk kemampuan untuk mengakomodasi siswa dengan tingkat pengetahuan yang beragam, memberikan aksesibilitas yang lebih baik, dan memberikan umpan balik yang lebih cepat. Namun, penting untuk memastikan bahwa e-modul dirancang dengan baik, mudah digunakan, dan sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Guru sebagai salah satu faktor pendukung utama pelaksanaan pembelajaran ini dituntun mampu merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran berdiferensiasi dengan baik. Selain itu, guru tetap harus memperhatikan pengetahuan awal peserta didik sehingga pembelajaran berdiferensiasi yang dilaksanakan selain memudahkan siswa belajar, tetapi juga belajar konsep yang benar. Banyaknya hal yang dapat dilakukan untuk menerapkan pembelajaran berdiferensiasi tentunya menuntut guru melakukan pekerjaan ekstra. Namun demikian, hal tersebut diharapkan bukan dijadikan kendala melainkan sebagai motivasi untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Harapan kedepannya dengan bertambahnya beban kerja guru selaras dengan peningkatan kesejahteraan guru tersebut.

* Penulis adalah Dosen Program Studi Pendidikan Fisika FKIP Universitas Sriwijaya