Jumat, 11 Des 2020 - 23:31:00 WIB - Viewer : 1704

Budidaya Kopi Harus Adaptif terhadap perubahan iklim

Ed : Siera Syailendra

AMPERA.CO, Jakarta –Yayasan Inisiatif Dagang Hijau (Yayasan IDH) bersama mitra terkait melakukan diskusi untuk membahas lebih lanjut tantangan dan strategi mitigasi sektor kopi di Indonesia akibat perubahan iklim.

Diskusi utamanya membahas temuan terbaru dari Laporan Katalog Iklim yang menganalisa terhadap dampak iklim di sektor kopi pada 15 negara yang mewakili 90% produksi kopi global di Amerika, Afrika, dan Asia, termasuk Indonesia.

Laporan Katalog Iklim yang disusun bersama oleh IDH, Conservation International, Global Coffee Platform, HRNS Coffee Climate Initiative dan Specialty Coffee Association tahun 2019 ini menekankan bahwa dampak perubahan iklim terhadap sektor kopi sangat nyata.

“Kopi adalah tanaman yang sangat tergantung pada suhu dan pola curah hujan tertentu. Perubahan iklim, seperti kenaikan suhu, curah hujan yang tidak teratur, kekeringan dan badai telah mengganggu pertumbuhan tanaman kopi. Ditambah lagi, tanaman kopi di Indonesia sudah tergolong tua, banyaknya persebaran hama dan penyakit, juga praktik bertani yang tak lagi sesuai,” ujar Melati, Program Manager Commodities and Intact Forest, Yayasan Inisiatif Dagang Hijau (YIDH) dalam diskusi bertajuk `Masa Depan Budidaya Kopi di Tengah Krisis Iklim` ini.

Lebih lanjut, Melati memaparkan lima tantangan akibat risiko iklim yang ditemui di setiap negara penghasil kopi di dunia. Jika tidak segera ditangani, maka dapat mengancam kehidupan sosial, ekonomi, dan lingkungan masyarakat yang bergantung pada sektor kopi.

Kelima tantangan tersebut adalah kehilangan area lahan dan perlunya berpindah ke lahan yang lebih cocok, meningkatnya kebutuhan air, proses pembungaan dan perkembangan biji kopi yang terganggu, meningkatnya persebaran hama dan penyakit tanaman, serta meningkatnya kerentanan bagi petani kecil
dan petani perempuan.

Tidak berhenti di situ, laporan Katalog Iklim mengungkapkan enam strategi mitigasi ketahanan iklim di sektor kopi.

Strategi tersebut adalah perlunya penelitian lebih lanjut dampak perubahan iklim terhadap kopi. Perlunya  berinvesitasi pada kebutuhan khusus kebun dan proses pengolahan, penyusunan dan pelaksanaan mekanisme keuangan untuk memfasilitasi investasi, perlunya berinvestasi dalam pengembangan varietas kopi yang tangguh menghadapi perubahan iklim, perlunya penguatan kebijakan pembangunan dan lingkungan di tingkat nasional, dan perlunya penguatan organisasi petani.

Sektor kopi di Indonesia sangat berpotensi untuk dibenahi agar memiliki ketahanan terhadap iklim. Beberapa faktor pendukung termasuk kondisi alam Indonesia yang dapat diperbaiki untuk mengurangi Gas Rumah Kaca (GRK),
melalui program perhutanan sosial dan rehabilitasi lahan. Selain itu, terdapat beberapa faktor pendorong lainnya yaitu Paris Agreement yang mengikat komitmen Indonesia untuk mengurangi emisi karbon nasional dan European
Green Deal yang mensyaratkan sertifikasi untuk impor komoditas oleh negara-negara Eropa.

Niels Haak, Senior Manager Sustainable Coffee, Conservation International juga optimistis melihat potensi sektor kopi di Indonesia.

Meskipun perubahan iklim diperkirakan akan semakin mengancam mata pencaharian produsen kopi di seluruh Indonesia serta meningkatkan risiko degradasi lingkungan, namun kita memiliki kesempatan yang luas untuk mengubahnya dengan membuka potensi kopi sebagai solusi perubahan iklim yang berbasiskan alam.

Arahan penting untuk mewujudkan potensi ini adalah dengan meningkatkan tutupan pohon di kebun kopi, misalnya dengan mempromosikan dan mengaktifkan sistem produksi wanatani/agroforestry.

"Untuk mencapai hal ini, kerja sama yang baik di antara para pemangku kepentingan - pada skala lokal, nasional maupun global - sangat penting,"katanya.

Upaya mitigasi iklim lainnya di sektor kopi dilakukan melalui kemitraan kopi berkelanjutan, seperti program yang digagas oleh Wildlife Conservation Society (WCS) Indonesia yang berkolaborasi dengan 28 kelompok tani dari delapan desa di kawasan utara Bukit Barisan Selatan.

Komitmen mereka ditunjukkan dengan penandatanganan kesepakatan awal `BBS KEKAL` (Bukit Barisan Selatan Kemitraan Komoditas Lestari) untuk meningkatkan praktik keberlanjutan produksi kopi mereka dan tidak menyusup ke kawasan hutan atau membeli atau menjual lahan di kawasan Taman Nasional.

Komentar Berita