Sabtu, 27 Mar 2021 - 23:52:00 WIB - Viewer : 592

Diskon PPnBM Mobil 2.500 cc Dianggap Hanya Menguntungkan Satu Pabrikan?

AMPERA.CO, Jakarta - Diskon Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) mobil 4x2 dan 4x4 berkubikasi mesin 1.500 cc hingga 2.500 cc sudah di depan mata. Pemerintah bisa dibilang sudah pasti menerapkan kebijakan tersebut per April 2021.

Kebijakan ini telah diputuskan dalam rapat koordinasi terbatas yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, serta dihadiri oleh Menteri Perindustrian dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan ada dua skema diskon PPnBM yang diberikan kepada mobil berpenggerak 4x2 dan 4x4. Skema pertama untuk kendaraan 4x2 adalah mengurangi separuh tarif PPnBm yang semula 20 persen menjadi 10 persen pada April-Agustus 2021.Kemudian pada tahap II atau September-Desember 2021, PPnBm jenis mobil itu menjadi 15 persen.

Sementara itu, skema bagi kendaraan berpenggerak 4x4 adalah diskon sebesar 25 persen. Segmen mobil yang sedianya memiliki tarif PPnBM 40 persen akan menjadi 30 persen untuk tahap I dan 35 persen pada tahap II.

Namun ternyata tidak semua tersenyum dengan pengumuman kebijakan tersebut. Pasalnya diperkirakan hanya dua model yang dapat menikmati fasilitas PPnBM ditanggung pemerintah.

Menurut data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), ada delapan mobil berkubikasi 1.500 cc – 2.500 cc yang diproduksi di Indonesia. Mereka adalah BMW X1, Mini Cooper, Honda CR-V, Honda HR-V 1.8L, Hyundai Starex (khusus ekspor), Mitsubishi Pajero Sport, Toyota Innova, dan Toyota Fortuner.

Dari seluruh model tersebut, hanya Toyota Innova dan Toyota Fortuner yang telah mengantongi tiket diskon PPnBM bulan depan. Sisanya, kesulitan memenuhi satu syarat bernama local purchase yang diusulkan saat ini. 

Dalam keterangan yang diberikan Menperin Agus, penerima relaksasi pajak ini harus memenuhi sejumlah syarat. Salah satunya adalah ambang batas local purchase atau rasio pembelian komponen dalam negeri sebesar 60 persen dan tentu diproduksi di Indonesia.

Dengan syarat pembelian komponen lokal sebesar 60 persen, artinya baru Toyota Innova dan Fortuner yang dipastikan menerima insentif PPnBm.

Berdasarkan catatan Bisnis, tingkat komponen dalam negeri (TKDN) Mitsubishi Pajero Sport masih di bawah 50 persen. Sementara data mengenai TKDN Honda CR-V dan HR-V 1.8L belum ditemukan.

Pengamat otomotif sekaligus akademisi dari Institut Teknologi Bandung, Yannes Martinus Pasaribu, mengaku bingung dengan keputusan pemerintah yang menetapkan ambang batas local purchase sebagai syarat penerimaan insentif.

“Saya juga penasaran dengan angka local purchase, apa dasar kajian ilmiahnya. Kenapa tidak dibuat gradasi sesuai dengan persentase pembelian komponen lokalnya,” ujar Yannes yang dikutip ampera.co dari Bisnis.com, Rabu (24/3/2021).

Dia menilai bahwa hal tersebut perlu penjelasan dari pemerintah, sebab syarat ini dinilai hanya menguntungkan pabrikan yang produknya telah memenuhi syarat tersebut.

“Ini tentu perlu penjelasan dari pemerintah soal fairness dalam kebijakan demi membangun kesan bahwa pemerintah mengayomi seluruh pelaku usaha secara adil,” tuturnya.

Business Innovation and Sales & Marketing Director PT Honda Prospect Motor Yusak Billy, menilai jika skema relaksasi dapat diterapkan untuk segmen yang lebih luas, pemerintah sebaiknya mempertimbangkan kembali batasan local purchase sebagai syarat.

“Jika tujuannya mendorong pertumbuhan industri, kami menilai bahwa dengan menurunkan local purchase ke 50 persen untuk semua segmen akan memberikan dampak positif yang lebih besar, terutama bagi usaha kecil dan menengah serta pemasok lokal,” kata Billy.

Menurut Billy, dengan menurunkan ambang batas syarat tersebut, semakin banyak industri penunjang dan pemain otomotif yang mendapatkan dampak positif.

“Jadi, bukan hanya mengarah pada segmen atau brand tertentu saja,” ungkapnya. Dia melanjutkan bahwa HPM masih terus berkomunikasi dengan pemerintah terkait perluasan insentif PPnBM. "Apakah CR-V dan HR-V masuk? Saat ini kami masih berkomunikasi dengan pemerintah terkait detail program ini, termasuk model apa saja yang masuk, jadi, belum bisa kami umumkan sekarang," katanya.

Secara terpisah, Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan Kementerian Perindustrian Sony Sulaksono menyatakan bahwa ambang batas local purchase bertujuan mendorong pembelian produk Indonesia semakin tinggi.

“Semakin tinggi, kan, semakin bagus. Hanya saja harus realistis melihat kemampuan industri otomotif,” ujar Sony, yang enggan menjawab pertanyaan lebih lanjut.

Dikonfirmasi terpisah, Direktur Administrasi, Korporasi, dan Hubungan Eskternal PT Toyota Manufacturing Motor Indonesia (TMMIN), Bob Azzam mengatakan insentif PPnBM tidak hanya untuk perusahaanya.

"Nggak lah saya rasa brand lain banyak yang terima insentif, kecuali yang import," katanya.

Dia melanjutkan bahwa insentif untuk sektor otomotif harus memberikan dampak positif kepada negara. Oleh karena syarat local purchase guna memberikan efek domino yang lebih dalam terhadap industri otomotif dan turunannya.

"Jangan sampai pemilihan sektor otomotif membebani neraca dagang kita," tambah Bob.

Pasar 1.500 cc - 2.500 cc Mengutip data Gaikindo, Innova dan Fortuner adalah penguasa pasar 1.500 cc hingga 2.500 cc. Penjualan pabrik ke dealer Innova dan Fortuner bekontribusi 53,9 persen pada kategori tersebut.

Lebih rinci, Innova sepanjang 2020 membukukan wholesales sebanyak 27.594 unit atau 45,1 persen dan Fortuner 4x2 5.398 unit atau 8,8 persen. Sementara itu, secara total, pada tahun lalu segmen 1.500 cc hingga 2.500 cc kurang lebih anjlok setara dengan pasar kurang dari 1.500 cc.

Secara tahunan, mobil 1.500 cc turun 47 persen, sedangkan mobil 1.500 cc hingga 2.500 cc merosot 46 persen. Namun pada awal tahun ini, kinerja pasar 1.500 cc hingga 2.500 cc terlihat jauh lebih baik dibandingkan dengan segmen kurang dari 1.500 cc.

Sepanjang dua bulan pertama tahun ini penjualan ritel mobil penumpang 4x2 dengan kubikasi mesin 1.500 cc hingga 2.500 cc turun 29 persen secara tahunan. Penurunan ini jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan mobil penumpang 4x2 berkubikasi kurang dari 1.500 cc yang merosot 47 persen secara tahunan.

Apabila melihat kontribusi terhadap pasar otomotif nasional, mobil penumpang 4x2 1.500 cc hingga 2.500 cc menguasai 11,9 persen pasar mobil di Indonesia. Dengan demikian, segmen yang didominasi model SUV ini adalah penguasa pasar terbesar ketiga setelah mobil penumpang 4x2 kurang dari 1.500 cc dan LCGC.

Adapun aturan resmi mengenai insentif PPnBM mobil 1.500 cc hingga 2.500 cc masih digodok oleh Kementerian Keuangan. Tentu semua pihak berharap regulasi ini dapat memberikan manfaat sebanyak-banyaknya untuk negara, bukan hanya membuat tersenyum satu pihak saja. 

Editor : Feri Yuliansyah

Bisnis.com

Komentar Berita