Selasa, 10 Mei 2016 - 16:01:00 WIB - Viewer : 7320

HMI dan Korupsi

Oleh: Bambang Prayitno (Anggota Keluarga Alumni KAMMI)

 Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) diguncang gempa. Seluruh aktivis dan seniornya tersentak. Terperanjat dan goyah. Berderak tak seimbang. Semua gara-gara ketidakhati-hatian. Adalah Thony Saut Situmorang, mantan Staf Ahli Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) yang kini menjadi pimpinan KPK, yang menyalakan ledakan kali pertama. 


Saat ia menjadi narasumber `Harga Sebuah Perkara` di stasiun TVOnepada Kamis 5 Mei 2016, di sanalah Saut menceritakan tentang perilaku korupsi dan kejahatan dengan orang cerdas.

Naifnya, Saut menyebut nama organisasi dan jenjang pengkaderannya sebagai tamsil. Ia dengan lugas mengatakan;"mereka orang-orang cerdas ketika mahasiswa, kalau HMI minimal LK 1. Tapi ketika menjadi pejabat mereka korup dan sangat jahat". 

Perumpamaan yang sekilas mengalir biasa saja. Jika ditilik lebih dalam, sungguh menjadi tak etis lagi karena begitu terdengar tendensius. Apalagi yang mengucapkannya adalah pimpinan KPK, dimana lembaga dengan seluruh pandangannya melekat padanya.

Seketika setelah gempa itu, seluruh pengurus HMI dan alumni HMI dari berbagai latar, mengecam dan membuat serangkaian rencana untuk Saut. Tak kurang Machfud MD dan Hamdan Soelva serta Dien Syamsuddin juga turut bersuara. 

Sementara dalam Rakornas III KAHMI 2016 di Jawa Barat pada 4-6 Mei 2016 yang diikuti oleh peserta dari Majelis Nasional, Wilayah dan Daerah KAHMI, salah satu bahasan pentingnya adalah soal pernyataan Saut ini.

Beberapa poin penting yang menjadi keputusan resmi organisasi KAHMI adalah; Pertama, Saut Situmorang harus minta maaf kepada HMI melalui media massa cetak dan elektronika nasional selama 5 hari berturut-turut. 

Kedua, Saut Situmorang harus mundur dari jabatan pimpinan KPK. Ketiga, KAHMI akan menempuh upaya; melaporkan ke Majelis Kode Etik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan menempuh upaya hukum serta melaporkan ke Mabes Polri.

Ketidaketisan dari pernyataan seorang Saut dalam pandangan HMI, alumni HMI dan berbagai tokoh nasional ini memang cukup beralasan. Saut seolah-olah telah beralih wujud dari seorang praktisi -- yang mestinya bekerja melakukan sosialisasi atau kerja pemberantasan korupsi -- menjadi seorang pengamat politik atau pengamat pemberantasan korupsi. 
Pandangannya seperti memuat semacam sinyal. Entah apa. Tapi yang jelas, indikasi penyudutan nama HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) oleh Saut, memang perlu mendapat penyikapan yang serius.

Pertama, penyebutan HMI dalam konteks pembicaraan Saut Situmorang memang sangat merugikan nama baik HMI. Kedua, publik jadi menarik seluruh hal yang bertalian dengan pribadi Saut dan latar belakangnya dan dihubung-hubungkan dengan masalah ini; seperti latar belakang Saut yang mantan Staf Ahli BIN dan pernyataannya yang tak mau mengusut kasus Century; kasus yang sedikit-banyak bertalian dengan persinggungan senior HMI dengan tokoh politik lain dalam sebuah partai.

Lalu yang ketiga, dalam beberapa tahun terakhir, memang seperti ada upaya pengkerdilan dan pelecehan nilai-nilai Islami dan karakter aktivis Islam, baik secara personal maupun kelembagaan. Caranya dilakukan dengan pembunuhan karakter yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu. Baik lewat kasus hukum atau media yang lain. Dan kasus Saut seperti menjadi bandul pengingat itu semua.

Sehingga saya kira, semua yang dilakukan HMI dan alumninya; seperti aksi nasional, protes ke KPK, membuat petisi, hingga tuntutan mundur ke Saut, menjadi hal yang harus dilakukan.

Disamping sebagai langkah awal untuk menggalang solidaritas aktivis Islam pada masalah keummatan dan kebangsaan, semua langkah yang dilakukan itu dalam rangka memberi terapi dan kritik yang konstruktif atas KPK dan pimpinan serta personalianya.

Setidaknya ada beberapa masukan berkaitan dengan peristiwa "asal ucap" Saut ini. Yang pertama, terkait KPK dan seluruh hal yang menyertainya. Dan yang kedua, terkait HMI itu sendiri.

Yang pertama, dalam proses seleksi calon pimpinan KPK. Saya memberi masukan agar DPR RI mengevaluasi sistem dan pola perekrutan pimpinan KPK yang tolok ukur keterpilihannya menekankan nilai integritas, nilai kejujuran, azas ketidakberpihakan dan kecakapan seorang calon dalam memandang Indonesia dengan kebesarannya. 

Yang kedua, berkaitan dengan penyelidikan profil calon dan sejarah masa lalu serta kaitan-kaitannya. Terus terang saja, setelah melihat latar belakang Saut yang tak mau mengusut Century dan BLBI itu, dengan alasan apapun, saya jadi merenung dan mulai meragukan integritas pemberantasan korupsi seorang Saut Situmorang.

Yang ketiga, secara kelembagaan, KPK bisa kita minta membuat tata aturan tentang penugasan Komisioner atau lembaga dalam berbicara kepada publik, sesuai dengan tema dan keahlian serta wawasannya atas sebuah masalah. Sehingga ke depan, tak ada lagi insiden salah ucap seperti yang terjadi sekarang.

Terkait masukan kepada HMI, saya sarikan dari Hymne HMI; sebuah lagu dengan perenungan dalam yang bisa menjadi media untuk mengelaborasi seluruh masalah keummatan dan kebangsaan. Termasuk masalah yang mendera HMI sekarang. Semoga aktivis HMI berkenan. Berikut lagu Hymne HMI;

Bersyukur dan ikhlas
Himpunan Mahasiswa Islam
Yakin usaha sampai
Untuk kemajuan
Hidayah dan taufik
Bahagia HMI

Berdoa dan ikrar
Menjunjung tinggi syiar islam
Turut qur`an dan hadits
Jalan keselamatan
Ya Allah berkati
Bahagia HMI


Masukan yang pertama; bersyukur dan ikhlas. Itu kalimat pertama di Hymne HMI. Bersyukurlah kita semua dihimpun dalam organisasi Islam. Bersyukur juga dengan adanya peristiwa ini. Karena peristiwa ini menyatukan HMI yang senior dan junior; tua dan muda; dari kalangan politisi, profesional maupun dari pemerintahan. 

Semua disatukan oleh perasaan yang sama; rasa sakit, tersinggung dan marah. Tapi juga terhentak dan bangkit. Peristiwa ini seakan bisa menjadi medium perekat hati-hati insan HMI dan aktivis Islam lainnya untuk bahu-membahu menyelesaikan masalah keummatan dan kebangsaan dengan berjama`ah.

Lalu ikhlaskanlah. Kita harus marah, tapi tetap ikhlas. Kita mesti ikhlas, walau protes tetap harus dijalankan. Karena memang seperti itu kejadiannya. Ini perjalanan HMI yang mesti dilewati.

 

Ada isyarat dari zaman ini tentang apa yang harus dilakukan. Mungkin saja, ini penanda era dimana HMI harus turun tangan lagi membuat rekayasa sosial dan kelembagaan yang memastikan Indonesia bisa bebas korupsi secepatnya. Atau apapun hikmah besar yang bisa diambil; ambillah.

Yang kedua, yakin usaha sampai untuk kemajuan. Perihal keyakinan ini, tentang seberapa yakin kita bahwa masalah ini tak menggoyahkan cita-cita besar HMI. Bahwa seluruh kerikil yang Saut lempar ini hanyalah bagian dari perjalanan yang biasa-biasa saja. Bukan hambatan besar dari cita-cita besar HMI. Semua untuk kemajuan. Untuk Indonesia kita.

Yang ketiga, hidayah, taufik, berdoa dan ikrar. Berdo`alah untuk beberapa hal. Yang pertama, berdo`alah agar Saut Situmorang bisa bertaubat dari salah ucap yang fatal itu. Semoga ia mendapatkan pencerahan dari peristiwa ini. 

Untuk yang kedua, semoga para politisi yang dihukum karena korupsi, bisa menyadari kesalahan-kesalahannya. Harus ada semacam keyakinan dalam diri mereka, bahwa ternyata korupsi bisa memalukan diri, keluarga, dan lembaga yang dulu mereka pernah beraktivitas didalamnya. 

Ketiga, mari kita berikrar bersama, bahwa kita-lah generasi harapan itu; generasi tanpa korupsi yang akan menjadi pengawal Indonesia sejahtera.

Yang keempat, menjunjung tinggi syiar islam dan turut qur`an-hadits jalan keselamatan. HMI sebagai organisasi gerakan kaum muda yang sangat tua usianya, dimana seniornya tersebar di berbagai bidang, perlu juga membuat semacam formula bersumber Alquran dan Sunnah tentang bagaimana mengelola pemerintahan yang efektif dan efesien serta bebas korupsi. 

Oleh karena itu, bagian dari penegasan jati diri kita sebagai rahmat bagi sekalian alam. Dan yang kedua, ini adalah keyakinan kita; bahwa insiprasi profetik adalah jalan keselamatan kita semua.

Yang kelima, memohon kepada Allah untuk memberkahi perjuangan HMI. Peristiwa ini hendaknya menjadi cermin yang reflektik atas karya kebangsaan HMI dan Alumninya. Keberkahan Tuhan yang menjadi simpul aktivitas kita sebagai insan, hendaknya perlu terus-menerus diingat dan diharap. 

Dan yang keenam, bahagia. Jangan lupa bahagia. Seluruh peristiwa ini jangan sampai mencerabut kebahagiaan kita. Temukan sumber kebahagiaan kita dan nikmatilah. Mari kita berjuang dengan bahagia dan mengakhiri perjuangan kita juga dengan bahagia.

Demikianlah masukan-masukan saya. Berjalanlah terus wahai aktivis Islam yang berhimpun di HMI. Berjalanlah terus dengan narasi insan cita. Selalu senandungkan lagu kebanggaan aktivis hijau-hitam yang bening itu, yang membuat kita semua ingat di titik mana niat kita bermula. Semoga cita-cita Indonesia adil-sejahtera tanpa korupsi tetap menjadi mimpi kita semua.

Ayo bergandeng tangan bersama.

photo : Bambang Prayitno

Republika.co.id