Rabu, 08 Apr 2015 - 22:57:34 WIB - Viewer : 8804

Kami Sudah Tidak BAB Di Sungai Lagi

AMPERA.CO, PALEMBANG - Keberadaan pemukiman masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) di lorong Prajurit Nangyu Kelurahan 3-4 ulu Palembang sedikit banyaknya membawa berkah  bagi penghuninya. Paling tidak, kebiasaan masyarakat untuk buang air besar (BAB) sembarangan bisa dihilangkan secara bertahap.  Apalagi setelah pasokan air bersih dari  PDAM Tirta Musi Palembang mulai mengalir. Praktis warga hanya menggunakan air sungai untuk sekedar mandi.

Menurut Suryani, 32, Warga MBR Prajurit Nangyu, dia sudah tidak lagi BAB di sungai musi lagi. “Kan sudah ada kamar mandi sendiri. Jadi aku tidak buang di sungai,” ujarnya. Meskipun diakuinya masih ada saja warga yang ingin mandi, mencuci pakaian serta buang air kecil disungai. Namun diakuinya semenjak sudah ada air bersih dari PDAM dan dibuatnya WC dirumah-rumah kebiasaan itu diakui Suryani lama-lama mulai berkurang.

Pemukiman MBR sendiri yang semulanya kawasan kumuh di pinggiran sungai musi tersebut sudah ada sejak tahun 2012. Proyek yang diprakarsai mantan Walikota Palembang, Eddy Santana Putra itu bekerjasama dengan AUSAid menyediakan lahan bagi warga sekitar untuk memiliki pemukiman yang mampu memberikan sanitasi yang lebih baik. Dan memberikan subsidi kepada MBR tersebut, dimana pemasangan saluran air bersih menjadi murah. Warga dipaksa agar tidak BAB disungai lagi dan membongkar jamban-jamban (tempat BAB) dipinggir sungai karena dinilai tidak menyehatkan. Pemukiman warga di lorong Prajurit Nangyu tersebut lebih kurang berjumlah 145 rumah dengan type 36. Dengan menyediakan tempat bermain anak dan keluarga. Juga ada rumah IPAL Biogas dan IPAL Komunal  yang bisa menampung limbah tinja dari pemukiman warga tersebut. Rumah IPAL Biogas itu sendiri merupakan bantuan Meneg Lingkungan Hidup (LH)  Oktober 2012 lalu, yakni Jaman Menteri Balthasar Kambuaya.  

Perlu Perhatian

Sani, penjaga rumah IPAL Biogas mengaku rumah IPAL Biogas semenjak diresmikan Menteri lalu sempat terbengkalai. Padahal tujuannya baik yakni mampu menyalurkan gas hasil tampungan tinja. “Tadinya saya dengar begitu. Cuma gasnya, bisa dinikmati satu tempat saja. Itupun tidak tahan lama. Setengah jam kurang gas dari tinja ini sudah mati. Bagaimana mau disalurkan kerumah warga. Satu tempat saja sudah gak kuat,” terang Sani. Warga di MBR Nangyu itupun juga berharap agar limbah tinja warga bisa ditampung dan bisa menghasilkan gas untuk disalurkan di rumah-rumah.

“Kalau bisa disalurkan kerumah, beban kami bisa lebih berkurang. Karena sekarang gas LPG 3 Kg dan 12 Kg sudah mahal. Kalau saja dengan diolah dari IPAL biogas ini bisa lebih murah,” jelas warga lainnya. Belum optimalnya pengelolaan pun diakui Sani, sebagai penjaga hanya bisa bertahan hidup dengan menarik tarif  kamar mandi dan WC di rumah IPAL biogas tersebut. Dengan 6 WC dan 2 kamar mandi dipatok tarif Rp1000-Rp2000 untuk sekali penggunaan. “Syukur juga banyak juga warga yang pakai kamar mandi dan WC ini. Ada dari warga sekitar dan warga yang baru turun dari sungai musi,” jelasnya. Namun diakuinya penghasilan yang didapatnya tidak memadai karena harus dia membayar tagihan PDAM dan juga biaya pulsa untuknya.  Diapun berharap agar pengelolaan IPAL tersebut dapat lebih diperhatikan dan dia berharap ada bantuan dari pemerintah setempat, paling tidak camat dan lurah setempat.    

Sementara itu, Sekretaris Lurah ¾ Ulu Palembang, Meko Ginta mengatakan paling tidak sedikit demi sedikit warganya sudah tidak BAB di sungai lagi. Dan hal itu perlu proses dan ketersediaan sarana dan prasarana yang mendukung. “Yah untuk mandi masih disungai. Tapi Jamban untuk BAB di sungai sudah tidak ada lagi,” jelasnya. Menurut Meko, untuk kesadaraan akan pentingnya sanitasi yang baik tergantung pola pikir masyarakatnya. Terlebih setelah air bersih nyambung ke pemukiman tersebut maka sedikit banyaknya pola hidup warga berubah.

“Meskipun BAB sudah banyak rumah masing-masing. Namun kebiasaan warga yakni buang sampah disungai masih terjadi,” jelasnya.

Bangun IPAL Komunal

Sementara itu, untuk terus meningkatkan sanitasi warga, Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang juga  mendapatkan bantuan dari pemerintah Australia melalui lembaga AusAID untuk pembangunan fisik sanitasi perkotaan atau instalasi pembuangan air limbah (IPAL) komunal di pemukiman. Menurut 

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Palembang, M Syafri Nungcik direncanakan ada lima kawasan yang akan ditempatkan IPAL komunal yakni di Kecamatan Kalidoni, Sako, Sematang Borang, Sukarami dan Gandus . “Kita harapkan tahun depan proyek pengerjaan selesai dengan sasaran 1000 sambungan dengan biaya U$ 1 Juta. Sementara untuk tahap berikutnya 1000 sambungan lagi akan diimplementasikan,” terangnya kemarin.

Pembangunan ipal komunal ini dilakukan dengan sistem rembes (reimburse) atau diganti. Artinya, Pemkot terlebih dahulu akan menganggarkan dana untuk pembangunannya dan baru akan diganti pihak AusAID ketika telah dilaksanakan. Pihaknya tengah mempersiapkan Detail Engineering Design (DED). Hanya saja tahap pertama terlebih dahulu akan difokuskan pada dua titik saja, dengan skala minimal pembangunan ipal 200 : 1. Atau dalam 1 ipal komunal akan tersambung dengan 200 rumah warga.

Sementara itu, Senior Program Officer The Indonesia Infrastructure Initiative (IndII), Nur Fadrina Mourbas mengatakan pihaknya cukup konsen untuk sistem pengolahan air di daerah perkotaan termasuk sanitasinya. Dan memberikan pendampingan terhadap program hibah dari Australia. Misalkan kota Palembang ada 2000 sambungan rumah. (AM5)

    Simak Berita lainnya seputar topik artikel ini :

  • palembang