Minggu, 12 Jul 2020 - 21:39:00 WIB - Viewer : 10232
Mengenal Ibnu Batutah dan Rihlah Panjangnya
AMPERA.CO - Nama ibnu Batutah mungkin sudah tidak asing lagi bagi para penggemar sejarah, karena catatan perjalanannya yang banyak dinukil para ahli dan buku-buku sejarah. Namun tentu tak banyak yang tahu siapakah nama asli ibnu Batutah?
Dia adalah adalah Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Ibrahim al-Lawati ath-Thanji yang dikenal dengan Ibnu Batutah. Ia lahir di Kota Tangier (Thanja), Maroko, tahun 703 H/1304 M.
Ibnu Batutah dikenal sebagai salah seorang tokoh peradaban Granada, Andalusia. Walaupun hanya sebentar di sana. Nasabnya disandarkan pada kabilah Lawatah. Salah satu kabilah Berber/Amazigh. Kabilah ini tersebar di sepanjang pantai Afrika Utara.
Ibnu Batutah adalah seorang traveler muslim yang paling terkenal. Bahkan dialah tokoh utama dalam dunia traveling pada abad ke-8 Hijriyah atau abad ke 14 Masehi. Tidak tanggung-tanggung, ia habiskan 28 tahun dari usianya untuk mengelili wilayah-wilayah yang terkenal di zamannya.
Perjalanan panjang itu ia mulai dari kota asalnya, Tangier. Lalu ia susuri pantai utara Afrika. Sampai tiba di Mesir. Dari Mesir ia jelajahi Jazirah Arab. Kemudian Syam. Kemudian wilayah-wilayah di Persia. Lalu Bahrain, Oman, dan Afrika Timur.
Perjalanan terus ia lanjutkan hingga menuju Asia kecil (Turki sekarang), Semenanjung Krimea (Ukraina sekarang), dan Sungai Volga selatan (bagian selatan Rusia sekarang). Setelah itu ia menuju Konstantinopel (Istambul). Lalu menuju timur, seperti: Khawarizm, Bukhara, Kurdistan, Afganistan, dan India. Di India ia tinggal selama delapan tahun. Kemudian ia menuju Kepulauan Maladewa (Maldives).
Dan sebagian kepulauan di Asia Tenggara seperti Indonesia dan Malaysia. Lalu Cina. Perjalanan panjang ini ia mulai pada tahun 1325 M dan kembali ke Tangier tahun 1347 M.
Selama perjalanan itu, Ibnu Batutah bertemu dengan banyak raja dan penguasa. Relasi yang ia bangun dengan penguasa-penguasa tersebut sangat membantunya menyelesaikan rihlah-nya ini.
Setelah menuntaskan safar panjang itu, ia hanya melakukan dua kali perjalanan singkat. Pertama ke Andalusia pada tahun 1350 M. Kedua ke Sudan dan Afrika bagian tengah pada tahun 1352 M. Setelah itu ia menetap di Kota Fes di Maroko pada tahun 1354 M.
Di kota Fes itulah ia menuangkan kisah perjalanannya dalam buku yang ia namai Tuhfah an-Nazhar wa Ghara-ib al-Amshar wa ‘Aja-ib al-Asfar atau yang lebih dikenal dengan Rihlah Ibnu Bathuthah. Kalau dikalkulasi, total jarak perjalanan yang ditempuh Ibnu Batutah selama safarnya kurang lebih 120.000 Km.
Rihlah Ibnu Batutah adalah perjalanan yang paling luar biasa dibanding semua pendahulunya. Banyak pelajaran kebudayaan, sejarah, politik, dan lainnya yang ia catat dalam perjalanannya.
Ia tidak hanya menceritakan hal besar. Namun hal-hal kecil yang detil pun ia catat. Ibnu Batutah adalah salah seorang dari tujuh orang traveler muslim yang tersohor: al-Maqdisi, al-Idrisi, Ibnu Jubair, as-Sam’ani, Yaqut, dan al-Biruni. Namun Ibnu Batutah yang paling unggul dari mereka semua. Karena ia memiliki perhatian yang besar tentang kejadian-kejadian di wilayah kunjungannya. Dan bagaimana tentang kondisi sosial kemasyarakatannya. Buku rihlahnya diibaratkan Kamus Cambridge.