Jumat, 17 Nov 2023 - 08:27:00 WIB - Viewer : 1332

Pendampingan Asesmen Pemodelan

Oleh : Dr. Yusuf Hartono, M.Sc.

Kurikulum merdeka belajar merupakan kurikulum yang memberikan kebebasan kepada sekolah untuk mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan siswa, sehingga sekolah dapat mengembangkan kurikulum matematika yang dapat berorientasi pada penerapan matematika dalam kehidupan nyata, agar siswa akan lebih memahami penggunaan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Konsep pembelajaran matematika merupakan suatu proses interaktif antara guru dan siswa untuk mengembangkan model pembelajaran berpikir dan logis yang dibuat oleh guru dengan menggunakan metode yang dibutuhkan agar pembelajaran matematika lebih berkembang secara maksimal, sehingga siswa mampu belajar lebih efektif dan efisien.

 

Matematika merupakan bahasa simbolis yang fungsi praktisnya untuk mengekspresikan hubungan kuantitatif dan spasial, sedangkan fungsi teoritisnya adalah untuk memudahkan dalam berpikir. Pemodelan merupakan suatu teknik yang digunakan untuk menggambarkan bagaimana suatu sistem informasi akan dibuat dan dihasilkan. Pemodelan matematika merupakan proses menerjemahkan permasalahan dunia nyata ke dalam bahasa matematika, atau dengan kata lain proses matematisasi permasalahan dunia nyata. Menurut Blum dan Leib, siklus atau proses pemodelan matematika terdapat tujuh langkah. Siklus pemodelan matematika tersebut sebagai berikut: 1) Tahap Constructing, merupakan tahap memahami situasi permasalahan nyata yang dilanjutkan dengan mengonstruksi situasi dari model. Pada tahap constructing diperlukan pemahaman karakteristik permasalahan yang akan dipecahkan, 2)Tahap Simplifying/Structuring, merupakan proses identifikasi variabel-variabel yang terlibat dalam permasalahan tersebut kemudian dilakukan penyederhanaan situasi untuk mempermudah penyusunan model disesuaikan dengan situasi model yang telah dikonstruksi. Pada tahap ini, tidak menutup kemungkinan mengambil beberapa asumsi, 3) Tahap Mathematising, merupakan proses mentransfer permasalahan nyata menjadi bentuk matematis, 4) Tahap Working Mathematically, merupakan proses menyelesaikan permasalahan yang telah berbentuk secara matematis, 5) Tahap Intrepreting, merupakan proses menafsirkan penyelesaian matematis ke permasalahan situasi nyata sebagai solusinya, 6) Tahap Validating, merupakan proses memastikan bahwa model telah sesuai dengan situasi model (berdasarkan data, teori, dsb). Pada tahap ini tidak menutup kemungkinan dilakukan pemodelan ulang apabila tidak sesuai, 7) Tahap Exposing, merupakan proses menyajikan situasi model ke situasi nyata.

 

Terdapat juga tiga proses penting matematis yaitu formulating, employing, serta interpreting & evaluating. Formulating merupakan proses mengubah masalah ke dalam bentuk matematika atau mematematikakan masalah-masalah kontekstual ke dalam bentuk matematika. Employing merupakan proses dalam melakukan komputasi dan manipulasi dengan menggunakan konsep, fakta, dan prosedur matematika untuk mendapatkan solusi. Sedangkan interpreting dan evaluating merupakan proses merefleksikan solusi serta kesimpulan matematis, memaknai solusi dalam konteks masalah, menentukan apakah solusi atau kesimpulan yang diperoleh masuk akal dan berguna. Konteks pemodelan dapat diambil dari permasalahan dunia nyata yang bisa dikenali oleh siswa agar dapat mudah dipahami oleh siswa.

Langkah-langkah pemodelan yaitu memahami/identifikasi masalah; membuat asumsi; mendefinisikan variabel; membangun model yang dapat berupa sistem persamaan aturan, prosedur, atau algoritma; menyelesaikan model; menafsirkan model; menafsirkan solusi; dan verifikasi model. Inti dari pemodelan matematika yaitu menggunakan bahasa matematika yang berasal dari matematisasi masalah dunia nyata sebagai permasalahan pada soal. Pemodelan matematika memiliki manfaat seperti membantu siswa untuk lebih memahami permasalahan dunia nyata menggunakan bahasa matematika, mendukung pembelajaran matematika (motivasi, pembentukan konsep, pemahaman, memori), hingga pengembangan kompetensi matematika. Kompetensi pemodelan matematika mencakup keterampilan dan kemampuan yang diperlukan untuk melakukan proses pemodelan yang tepat dan terarah pada tujuan serta mempunyai kemauan menggunakannya dalam upaya penyelesaian masalah. Selain itu, pentingnya pemodelan matematika dalam pembelajaran dikarenakan masih terdapat kesenjangan dalam pemodelan, seperti kesalahan siswa tidak dapat mengidentifikasi variabel masalahnya sehingga tidak memiliki deskripsi variabel untuk menjadi model, tidak membuat asumsi tentang model yang akan diformulasikan ke dalam persamaan, serta salah dalam memformulasikan dan menyelesaikan persamaan. Kesalahan yang berasal dari faktor internal antara lain siswa kurang latihan mengerjakan soal-soal cerita, tidak mengetahui tentang pemodelan matematika dan pentingnya pemodelan matematika untuk menyelesaikan soal cerita, serta menggunakan cara nalar atau insting sendiri dalam menyelesaikan soal cerita. Kesalahan yang berasal dari faktor eksternal antara lain soal cerita yang diberikan sulit dan kurangnya sarana prasarana penunjang seperti buku atau sumber lain.

Mengenai metode pengajaran, penting bagi siswa untuk menyelesaikan masalah pemodelan secara lengkap sehingga mereka memiliki pengalaman dalam menggabungkan berbagai aspek yang dibutuhkan oleh masalah tersebut. Mereka harus diberi kesempatan untuk melakukan seluruh siklus pemodelan. Jadi salah satu cara efektif untuk menggunakan waktu adalah dengan menetapkan masalah yang berfokus pada satu atau dua proses konstituen pemodelan matematika (Formulate, Employ, dan Interpret) dengan cara yang sama seperti yang dilakukan banyak item PISA. Studi kasus menunjukkan bahwa penggunaan butir-butir PISA yang dikombinasikan dengan diskusi kelompok dan arahan guru efektif dalam membantu membentuk pemikiran siswa tentang ciri-ciri utama dan tahapan pemodelan matematika Pada soal tipe PISA seperti AKM, masing-masing pertanyaan dialokasikan ke salah satu dari tiga proses berikut, dan kinerjanya kemudian dilaporkan

Masalah yang melibatkan proses pemodelan ini dapat dilihat pada penilaian kompetensi pemodelan. Oleh sebab itu, sangat tepat untuk menggunakan asesmen berbasis pemodelan untuk membantu peserta didik meningkatkan kompetensi AKM mereka.

Penulis Dosen di Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UNSRI

    Simak Berita lainnya seputar topik artikel ini :