Rabu, 29 Apr 2015 - 00:03:40 WIB - Viewer : 11516

Wow...Para Pelestari Tradisi Jumputan Palembang ternyata Orang Serang

Seorang perajin sedang melapisi kain jumputan dengan cat. Lorong Kebon Pisang Lorong Kebon Pisang merupakan satu-satunya pusat kerajinan kain jumputan di Palembang. Foto: AMPERA.CO/ Berlian Pratama

AMPERA.CO, Palembang - Sudah lebih dari 17 tahun Baharudin mengeluti kerajinan jumputan, dan hampir setiap hari ia bermain kain dan cat guna memproduksi kain “pelangi” sebutan lain kain jumputan palembang, karena warna-warnanya semeriah pelangi.

Tangannya cekatan saat mengaduk bahan-bahan perwarna kain dalam gentong. Mencelupkan kain berbahan satin kedalam gentong plastik yang sudah diberi pewarna. Kali ini ia memproduksi kain bermotif titik tujuh atau sesirangan khas Palembang, mirip motif jumputan di Jawa. Yang membedakanya adalah warna meriah dan gradiasi pelangi yang sangat khas Palembang, yang dipengaruhi budaya Melayu dan China.

Bakarudin hijrah dari serang, Jawa Barat ke Palembang atas ajakan pamannya yang lebih dulu mengeluti usaha ini.

Baharudin, bapak tiga anak ini menuturkan bahwa sebelum merantau ke palembang, ia dulu bekerja sebagai buruh di Jakarta. Dengan tujuan memperbaiki nasib, ia memutuskan untuk merantau ke Palembang dan bekerja dengan pamannya sendiri.

Setelah mengumpulkan modal dan belajar tekniknya, Bakarudin memberanikan diri untuk usaha sendiri. Berkat ketekunan dan kerja keras yang dijalani, saat ini usaha yang digelutinya telah memiliki omset mencapai 300 juta, serta telah memiliki tempat tinggal sendiri dan kendaraan pribadi.

Lorong Kebon Pisang memang dikenal sebagai satu-satunya pusat kerajinan kain jumputan di Palembang. Hampir semua rumah di lorong ini menggeluti tradisi tersebut. Rata-rata mereka masih memiliki hubungan keluarga berasal dari Serang dan Kuningan, Jawa Barat.

Sentra kerajinan ini bermula sejak tahun 1980-an. Awalnya, perintis kerajinan jumputan itu pekerja upahan pengusaha kain jumputan asli Palembang. Dulu kain jumputan Palembang dibuat serba alami, dimulai dari menenun sutra alam hingga perwarnaan menggunakan antara lain, tanah liat kulit rambutan dan beberapa jenis daun. Namun, usaha itu berhenti pada awal 1990-an.

Sejak  saat itu, produksi kain jumputan diolah para pekerja asal Serang.

Untuk memproduksi kain jumputan bisa memakan waktu 2 minggu tergantung motif dan panjang kain. Bahkan bisa memakan waktu satu bulan. (AM2)

    Simak Berita lainnya seputar topik artikel ini :

  • seni