Selasa, 16 Jan 2018 - 14:39:00 WIB - Viewer : 5852
Analis Politik : Elektabilitas Tinggi Belum Tentu Menang Pilkada
AMPERA.CO, Palembang - Dalam Pertarungan politik demokrasi langsung, elektabilitas tinggi belum menjadi jaminan pasti menang dalam kontestasi. Banyak kasus dialami kandidat yang memiliki elektabilitas tinggi tapi berujung pada kekalahan, seperti yang dialami oleh Hillary Clinton saat pemilihan Presiden Amerika Serikat berhadapan dengan Donald Trump.
Hillary yang kala itu selalu diunggulkan dalam berbagai Survey, akhirnya mengalami kekalahan dan harus mengakui keunggulan Donald Trump.
Hal yang sama juga di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Indonesia, dimana elektabilitas tinggi hasil survey tidak bisa sepenuhnya menjadi pegangan untuk meraih kemenangan. Sebagai contoh dalam pilgub Jawa Barat 2013 lalu. Saat itu Calon Gubernur Dede Yusuf berada di puncak hasil Survei. Tetapi kemudian dikalahkan Ahmad Heryawan yang memiliki tingkat elektabilitas rendah.
Kejadian yang sama juga di Pilkada Gubernur di Banten, Rano Karno yang memiliki elektabilitas tinggi juga dikalahkan oleh Wahidin. Terbaru di Pilkada DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) yang juga selalu diunggulkan dalam Survei mengalami kekalahan dari Anis Baswedan yang diawal justru elektabilitasnya paling rendah dari kandidat lainnya.
Kejadian yang sama juga di Pilkada Sumatera Selatan, Pada Pilkada Gubernur Sumsel secara langsung pertama kalinya ditahun 2008 saat itu petahana Syahrial Oesman memiliki tingkat elektabilitas tinggi, namun diakhir kontestasi Alex Noerdin lebih unggul dari Syahrial Oesman.
Di Pilkada Ogan Ilir juga sama, saat itu Helmi Yahya selalu merajai elektabilitas Survei namun diakhir kontestasi, Helmi dikalahkan juga oleh Noviandi Mawardi.
Melihat fenomena ini, Analis Politik, Fatkurohman, S.Sos di Palembang, selasa (16/1/2018) mengatakan Elektabilitas tinggi seorang calon kepala daerah belum tentu menjadi jaminan kemenangan kandidat dalam pilkada.
Menurutnya, dari berbagai pengalaman Pilkada, ada beberapa parameter yang menentukan kemenangan kandidat, diantaranya magnet figur kandidat yang positif (ketokohan), soliditas tim pemenangan yang kuat, unggul dalam strategi isu dan program dalam mempengaruhi psikologi pemilih.
“Dan yang terpenting ditunjang dengan modal sosial dan capital yang kuat untuk menggerakkan struktur pemenangan dan strategi isu,” ujar jebolan FISIP Unsri ini.
Dia juga menambahkan tokoh yang punya kapabilitas dan elektabilitas tinggi namun resisten secara sosialogis dan psikologis dimata pemilih sering kali akhirnya alami kekalahan dalam kontestasi terutama di area pemilih rasional yang sering menentukan.
Khusus untuk Pilkada Gubernur Sumatera Selatan, Fatur yang merupakan mantan Ketua BEM FISIP Unsri ini melihat secara ketokohan masih-masing kandidat memiliki magnet terhadap pemilih.
“Dan yang menentukkan nantinya yakni kesolidan struktur pemenangan kandidat dan kecerdasan dalam membingkai isu dan program (framing),”pungkasnya.



