Senin, 29 Jun 2015 - 00:01:00 WIB - Viewer : 49844

Pindad Siap Produksi Excavator untuk Dukung Pengembangan Infrastruktur Indonesia

Excava-200, Excavator buatan anak negeri, PT Pindad (Persero), akan diluncurkan pada 17 Agustus 2015.

AMPERA.CO, Bandung - Perusahaan pembuat excavator dan alat berat, seperti Caterpillar, Komatsu, Kobelco, Hitachi, Volvo, Hyundai, dan Doosan, harus siap-siap berbagi market dari pangsa pasar alat berat di Indonesia. Sebab, dalam waktu dekat PT Pindad (Persero) juga akan meluncurkan produksi excavatornya yang diberi nama Excava-200 yang dibanderol dengan kisaran harga 90.000 – 110.000 dollar AS per unit.

Dalam tahap awal, PT. Pindad (Persero) akan memproduksi excavator sebanyak 100 unit per tahun, yang di klaim tidak kalah dengan produk sejenis buatan Korea Selatan, jepang, dan Amerika Serikat (AS) baik dari sisi harga dan kualitas.

Direktur Utama Pindad Silmy Karim mengatakan, harga excavator buatan Pindad akan dibanderol kisaran US$ 90.000-US$ 110.000 per unit, atau berkisar Rp 1,17-Rp 1,43 miliar. Pihaknya telah melakukan survei dengan kisaran tersebut, Pindad Excava-200 bersaing ketat dengan produk dari Korea yakni Hyundai R210LC-9 yang dibanderol US$ 90.000, dan Doosan DX225LCA seharga US$ 105.000 juga Kobelco SK 200-8 seharga US$ 108.000.

Harga Pindad Excava 200 unggul bersaing dengan Caterpilar 320D produksi Amerika Serikat yang dibandrol US$ 125.000, Komatsu PC 200-8 produksi Jepang senilai US$ 119.000, dan Hitachi Z Axis 200 senilai US$ 114.000.

"Harga kita US$ 90-110 ribu itu menggunakan bench-mark dari Korea. Masa kita kalah dari Korea," kata Silmy di Kantor Pindad, Bandung, Jawa Barat, Sabtu (27/6).

Menteri BUMN Rini Soemarno juga telah menandatangani dukungan pembuatan tahap awal sebanyak 100 unit excavator buatan Pindad yang akan digunakan untuk berbagai keperluan oleh BUMN karya.

"Di luar BUMN kita juga buka penjualan untuk retail di luar BUMN. Cukup datang ke PT Pindad. Nanti akan kita launching setelah ada ketetapan harga. Pokoknya kita berani diadu," tegas Silmy.

Silmy menjelaskan, perusahaan alutsista tersebut kian mengembangkan bisnis non-pertahanan dan keamanan, sebagaimana arahan dari Presiden Joko Widodo. Pada 12 Januari 2015, Presiden Jokowi dan jajaran berkunjung ke pabrik Pindad, dan meminta perseroan pelat merah itu untuk meningkatkan porsi bisnis non-alutsista menjadi 25 persen.

Setelah melihat peluang pasar dan kebutuhan untuk pembangunan infrastruktur, Pindad memutuskan untuk melakukan diversifikasi produk, salah satunya dengan membuat excavator. Namun, Silmy memastikan pula bahwa pilihan ini bukan tanpa dasar kompetensi dari Pindad.

“Kompetensi kita di hidrolik. Kita bisa bikin crane. Kita sudah bisa membuat Anoa, tank, kurang lebih sama. Kemudian roda rantai, juga sama, malah lebih gampang. Saya tanya (ke karyawan), gampangan mana bikin tank sama excavator? (Mereka bilang) Gampang excavator. (Saya bilang) Ya sudah bikin,” cerita Silmy saat Menteri BUMN Rini Soemarno dan rombongan wartawan berkunjung ke pabrik Pindad, Bandung, Sabtu (27/6).

Saat ini, kata dia, pasar alat berat di tanah air sangat besar mencapai 7947 unit. "Kita ambil bagian 10% saja, itu cukup untuk mendongkrak kinerja kami. Pertama 700-an unit,‎ kecil dulu lah dibandingkan dengan kebutuhan. Tapi artinya bagi perusahaan dan negara sangat besar," kata dia.

Excava-200 didominasi warna merah dan putih yang melambangkan bendera Indonesia. “Ekskavator ini akan diluncurkan 17 Agustus, dan menjadi hadiah bagi Indonesia, bahwa kita ikut membangun pembangunan bangsa Indonesia ke depan, membangun infrastruktur,” ujar Silmy.

Substitusi impor

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini M Soemarno menyampaikan rasa bangga pada Pindad yang telah bisa membuat excavator. Hal itu menunjukkan bahwa Pindad yang notebene perusahaan di industri strategis pertahanan, bisa melakukan pengembangan sumber daya manusia.

“Dasar industri strategis pertahanan ini kemampuan teknologinya bisa digunakan untuk macam-macam industri. Ke depan harus lebih ke komersial, karena kalau hanya di pertahanan saja maka kemampuan research and development akan rendah, karena ordernya tidak tinggi,” ucap Rini.

Rini menegaskan, dikembangkannya produk non-alutsista oleh Pindad ini bertujuan untuk mengalihkan penggunaan produk luar negeri dengan produk dalam negeri atau import substitution.

Kendati saat ini mesin yang digunakan dalam Excava-200 masih buatan luar negeri, namun ke depan diharapkan jika skala ekonominya memenuhi, mesinnya pun harus berasal dari dalam negeri.

“Tentunya harapan kita, setelah import substitution, kita bisa mengekspor,” ujar Rini.

 

Feri Yuliansyah

berbagai sumber