Jumat, 31 Okt 2025 - 18:57:00 WIB - Viewer : 3848

Guru BK dibekali pelatihan layanan dasar berbasis kasus

// untuk tingkatkan kesadaran bullying multikultural siswa

Redaksi AMPERA.CO

IST
Tim Pengabdian Kepada Masyarakat Program Studi Bimbingan dan Konseling (BK) FKIP Universitas Sriwijaya

AMPERA.CO, Palembang — Tim Pengabdian Kepada Masyarakat Program Studi Bimbingan dan Konseling (BK) FKIP Universitas Sriwijaya sukses menyelenggarakan kegiatan bertajuk “Pelatihan Layanan Dasar Berbasis Kasus untuk Meningkatkan Kesadaran Bullying Multikultural Siswa bagi Guru BK”. Kegiatan berlangsung pada 22–25 Oktober 2025 dengan melibatkan 23 Guru BK SMA se-Kota Palembang.

Pelatihan ini secara resmi dibuka oleh Kepala SMAN Sumatera Selatan, Bapak Iswan Djati Kusuma, S.Pd., M.Si., dan turut dihadiri oleh Kepala BPMP Kota Palembang sebagai undangan kehormatan. Adapun Dr. Yosef, M.A. bertindak sebagai Ketua Pelaksana kegiatan yang merupakan bagian dari program pengabdian masyarakat Universitas Sriwijaya.

Dalam sambutannya, Dr. Yosef, M.A. menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan komitmen Universitas Sriwijaya sebagai kampus berdampak untuk berkontribusi nyata terhadap peningkatan kualitas Pendidikan terutama layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah.

“Guru BK memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan kesadaran sosial siswa. Melalui pelatihan ini, kami ingin memperkuat kemampuan guru BK dalam menggunakan pendekatan berbasis kasus agar layanan BK menjadi lebih relevan, inovatif, dan menyentuh aspek kemanusiaan siswa,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala SMAN Sumatera Selatan, Bapak Izwan Djati Kusuma, menyambut baik kegiatan ini dan berharap hasil pelatihan dapat diterapkan secara berkelanjutan di sekolah-sekolah.
“Upaya seperti ini sangat penting untuk memperkuat budaya toleransi di sekolah. Guru BK adalah garda terdepan dalam membangun lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan bebas dari perilaku bullying,” ujarnya dalam sambutan pembukaan.

Kegiatan ini bertujuan untuk melatih Guru BK dalam merancang kasus sebagai media layanan dasar Bimbingan dan Konseling dalam upaya meningkatkan kesadaran terhadap bullying multikultural di lingkungan sekolah. Dengan pendekatan berbasis kasus, guru diharapkan mampu menghadirkan pengalaman belajar yang lebih kontekstual, sehingga peserta didik dapat memahami nilai toleransi, empati, dan saling menghargai dalam keberagaman budaya.

Pelatihan dilaksanakan dengan metode blended learning, yaitu tatap muka (luring) pada tanggal 22–23 Oktober dan asynchronous learning daring pada 24–25 Oktober 2025. Beragam aktivitas pembelajaran diterapkan, mulai dari sesi tanya jawab, praktik penyusunan kasus, Focus Group Discussion (FGD), paparan hasil kerja, hingga evaluasi bersama.

Dr. Yosef, M.A. menjelaskan tentang penyusunan kasus berdasarkan prinsip 3C 3R, yaitu Context, Content, Connection, Reasoning, Researching, Reflecting).  Peserta sangat antusias menyimak dan aktif berdiskusi tentang materi yang disampaikan. Dalam pelaksanaan FGD, salah satu peserta menanggapi pelatihan yang diberikan dengan sangat positif. Ia menyatakan bahwa “kasus bullying multikultural sering terjadi di sekolah, dan melalui pelatihan pembuatan kasus ini, saya pribadi sangat beruntung dan antusias mengikutinya, saya dapat menerapkan 3C3R ini untuk merancang kasus dalam pelaksanaan layanan dasar”.

Pemaparan materi oleh Dr. Yosef, M.A.

FGD dan paparan hasil kerja oleh peserta


Peserta pelatihan diharapkan mendapatkan banyak wawasan dan keterampilan baru dalam menyusun kasus yang relevan dengan realitas multikultural siswa. Melalui kegiatan ini, guru BK tidak hanya dilatih secara teoritis, tetapi juga dipandu dalam praktik langsung pembuatan kasus, diskusi kelompok, dan refleksi hasil.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, Program Studi Bimbingan dan Konseling FKIP Universitas Sriwijaya diharapkan terus menjadi pelopor dalam pengembangan kapasitas profesional guru BK serta berperan aktif dalam menciptakan pendidikan yang berkarakter, inklusif, dan berkeadilan sosial. Kegiatan ini menjadi langkah awal bagi terciptanya sekolah ramah budaya, di mana setiap siswa tanpa memandang asal daerah, bahasa, atau latar budaya merasa dihargai dan aman.