Jumat, 10 Jul 2015 - 10:52:00 WIB - Viewer : 16600
Indonesia Meninggalkan Layanan CDMA
AMPERA.CO, Jakarta – Operator telekomunikasi seluler di Indonesia mulai meninggalkan teknologi CDMA (code division multiple access). Belum lama ini Operator telekomunikasi PT Indosat Tbk (ISAT) mengakhiri secara penuh layanan CDMA-nya dengan brand StarOne pada 30 Juni 2015.
Perseroan mengakhiri layanan StarOne seiring dengan penerbitan dua aturan penggunaan frekuensi 800 Mega Hertz (MhZ) untuk keperluan layanan seluler.
Dua aturan tersebut yakni Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 30 Tahun 2014 tentang Penataan Pita Frekuensi Radio 800 MHz untuk Keperluan Penyelenggaraan Jaringan Bergerak Seluler, tertanggal 10 September 2014. Serta Keputusan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 799 Tahun 2014 tentang Penetapan Penggunaan Pita Frekuensi Radio 800 MHz, ditujukan kepada Indosat pada 12 September 2014.
“Atas nama manajemen, kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tinggi atas kesetiaan pelanggan menggunakan layanan StarOne selama ini. Semoga pelanggan StarOne tetap setia menggunakan layanan Indosat melalui mekanisme transisi dengan pengalihan layanan berbasis CDMA ke layanan berbasis GSM,” ujar John M Thompson, Director & Chief Technology Officer Indosat.
Indosat memberikan kompensasi kepada pelanggan StarOne dalam berbagai bentuk seperti kartu SIM GSM, fasilitas Call Forwarding, serta saldo Indosat Dompetku yang besarnya tergantung rata-rata penggunaan layanan Starone dalam tiga bulan terakhir. Saldo Dompetku tersebut dapat ditarik tunai di Galeri Indosat terdekat atau dibelanjakan di merchant-merchant yang bekerja sama dengan Indosat.
Sebelumnya, pengumuman migrasi pelanggan StarOne dilakukan Indosat di minggu ketiga Desember 2014 lalu. Terdapat 67.136 nomor pelanggan StarOne.
Seperti diketahui, Indosat akan menggunakan E-GSM untuk warisan frekuensi StarOne. Langkah ini akan mulus karena StarOne dan Indosat masih satu entitas. Apalagi, posisi frekuensi 800 MHz dan 900 Mhz milik Indosat berdampingan, sehingga bisa optimal untuk 3G atau 4G.
Langkah mematikan layanan fixed wireless access (FWA) berbasis teknologi CDMA juga dilakukan Telkom terhadap Flexi dan memindahkan frekuensi serta penggunanya ke anak usaha seluler PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel). Per akhir Desember lalu, baru sekitar 460 ribu pelanggan Flexi berhasil dipindahkan Telkom dari total sekitar 4,8 juta pengguna ke Telkomsel. Telkom menyiapkan dana Rp 897 miliar untuk kebutuhan migrasi pelanggan Flexi ke Telkomsel.
Telkom menargetkan paling lambat pada Desember 2015 semua pelanggan migrasi sudah tuntas dipindahkan. Telkomsel rencananya akan memanfaatkan frekuensi warisan Flexi untuk E-GSM mendukung 4G di 900 MHz. Namun, langkah ini tak semulus Indosat karena harus menunggu Mobile-8 berpindah alokasi frekuensi di Jakarta, Banten, dan Jawa Barat.
Sebelumnya, Denny Abidin, General Manager External Corporate Communication Telkomsel, mengatakan migrasi pelangan layanan Flexi ke Telkomsel mencapai 800 ribu pelanggan per awal tahun ini. Sementara total pelanggan Flexi Tekom tercatat 6 juta pengguna. Dari total 800 ribu pelanggan tersebut, sekitar 92% merupakan pelanggan prabayar dan sisanya adalah pelanggan pascabayar.
Sementara Bakrie Telecom dan Smartfren pada akhir 2014 lalu melakukan konsolidasi jaringan. Dengan langkah tersebut, Bakrie Telecom memiliki 6% saham di Smartfren dari PT Wahana Inti Nusantara, yang memiliki 32,81% saham. Dengan demikian jumlah saham Wahana berkurang menjadi 26,61%.
Penyertaan saham Bakrie Telecom di Smartfren merupakan kompensasi atas alokasi frekuensi Bakrie di spektrum 800 MHz yang diserahkan ke Smartfren. Hal tersebut disepakati, setelah kedua operator menandatangani Perjanjian Kolaborasi dan Perjanjian Sewa Menyewa Jaringan pada 30 Oktober 2014 lalu.
Feri Yuliansyah



