Minggu, 27 Okt 2024 - 11:20:00 WIB - Viewer : 13120
AKM, Mengukur Kompetensi Literasi & Numerasi untuk Mewujudkan Pembelajaran Bermakna & Berkelanjutan
IST
Kebijakan "Merdeka Belajar" yang dicanangkan oleh pemerintah Indonesia telah menggantikan model ujian yang lebih konvensional dan berfokus pada hafalan dengan pendekatan yang lebih aplikatif menjadi bentuk Asesmen Kompetensi Minimum (AKM). Ini menjadi salah satu alat ukur kemampuan dasar peserta didik dalam literasi dan numerasi.
AKM mengukur kompetensi yang dianggap penting bagi peserta didik untuk dapat belajar sepanjang hayat dan berkelanjutan dalam kehidupan nyata. Pada konteks literasi, yang diukur dalam AKM mencakup kemampuan peserta didik untuk memahami, mengevaluasi, merefleksikan, dan menggunakan informasi dari berbagai jenis teks, termasuk teks fiksi/non-fiksi, dan teks informasi.
Selain itu dalam hal numerasi, bukan hanya berhitung tetapi mencakup kemampuan peserta didik untuk berpikir logis, menerapkan konsep matematika, dan menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Peserta didik diharapkan dapat menginterpretasi data, memahami hubungan antar variabel, dan memecahkan masalah yang melibatkan pengukuran, probabilitas, dan lainnya.
AKM mendorong peserta didik untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan analitis. AKM membantu mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan peserta didik dalam literasi dan numerasi, yang kemudian digunakan oleh guru untuk memberikan intervensi yang sesuai.

AKM juga mempersiapkan peserta didik untuk menghadapi tantangan di dunia modern, termasuk tantangan karier dan kehidupan sehari-hari dengan keterampilan dasar yang kuat dalam literasi dan numerasi.
Kompetensi literasi melibatkan kemampuan untuk memahami, mengevaluasi, dan merefleksikan berbagai jenis teks. Fokus pada pemahaman bacaan, berpikir kritis, serta kemampuan menganalisis dan mensintesis informasi dari berbagai sumber.
Kompetensi numerasi melibatkan fokus pada kemampuan menerapkan konsep dan penalaran matematika untuk memecahkan masalah dalam situasi kehidupan nyata
Pada proses pendidikan, guru dapat menggunakan hasil AKM untuk mengidentifikasi kesenjangan pembelajaran dan hal yang perlu ditingkatkan, baik dalam literasi maupun numerasi, sehingga memungkinkan solusi pembelajaran yang lebih tepat sasaran.
Selain itu, hasil dari AKM dapat membantu guru dalam mempersonalisasi pengalaman belajar, memberikan peserta didik kesempatan lebih banyak untuk bekerja pada kelemahan mereka sambil memperkuat keunggulan mereka. Guru yang terlatih membuat soal dengan mempertimbangkan kompetensi literasi dan numerasi akan mampu mengarahkan pada pengukuran kemampuan berpikir tingkat tinggi, seperti analisis, evaluasi, dan pemecahan masalah.
Pelatihan yang dilaksanakan oleh Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan pada Agustus sampai dengan November 2024 telah mendorong guru untuk mengembangkan kemampuannya dalam menyusun soal-soal dengan Framework AKM pada materi pembelajaran IPA. Guru-guru yang dilatih dan didampingi merupakan guru yang tergabung dalam MGMP IPA Kota Palembang yang berjumlah 30 orang guru.

Metode pelatihan yang digunakan adalah metode tatap muka dan online. Guru diharapkan melalui pendampingan dan pelatihan ini dapat mengenal lebih baik jenis soal, seperti soal pilihan ganda kompleks, soal essay terbuka, dan soal yang memerlukan penalaran logis serta refleksi kritis. Guru juga diharapkan akan memiliki keterampilan dalam merancang dan melaksanakan proses pembelajaran yang baik dengan menggunakan media dan sumber belajar dalam dalam berbagai bentuk salah satunya dalam bentuk infografis.
Ini akan berdampak baik juga pada proses pembelajaran yang mengarahkan peserta didik pada kemampuan memahami, memecahkan masalah, mengevaluasi dari berbagai sumber informasi menggunakan kompetensi literasi dan numerasinya. Pada akhirnya guru akan lebih percaya diri dalam memberikan evaluasi yang adil dan valid kepada peserta didik.
Guru yang terlatih dapat berkolaborasi dan berbagi praktik terbaik dengan sesama rekan kerja, sehingga seluruh sekolah dapat merasakan manfaat dari pelatihan AKM. Ini akan menciptakan budaya pembelajaran yang berkelanjutan dan mendukung pengembangan profesional secara kolektif. Melatih guru dalam membuat soal Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) merupakan langkah strategis yang dapat memperkuat kapasitas guru, meningkatkan kualitas evaluasi, dan pada akhirnya membantu peserta didik mengembangkan keterampilan yang relevan untuk sukses di dunia modern. Oleh sebab itu, pelatihan ini tidak hanya bermanfaat bagi guru, tetapi juga bagi peserta didik dan seluruh sistem pendidikan.
Penguatan literasi dan numerasi dalam proses pembelajaran merupakan landasan utama pendidikan. Oleh sebab itu, dengan melatih guru maka sekolah secara keseluruhan telah mendukung keberhasilan implementasi AKM di tingkat nasional.
Ini juga membuka wawasan guru bahwa guru harus mempersiapkan proses pembelajaran yang inovatif, berbasis masalah, dan konteks kehidupan nyata, sehingga proses belajar mengajar menjadi lebih bermakna karena terhubung dengan dunia nyata melalui penggunaan media dan sumber belajar serta evaluasi yang tepat.
Integrasi penggunaan teknologi dalam asesmen seperti soal digital atau aplikasi interaktif juga berperan penting dalam mendukung pembelajaran. Akhirnya, pelatihan ini diharapkan bukan hanya mendukung kebijakan pemerintah dalam mengimplementasikan AKM sebagai bagian dari program peningkatan mutu pendidikan nasional tetapi lebih kepada peningkatan kualitas pembelajaran yang lebih bermakna dan berkelanjutan bagi peserta didik.
*) Penulis adalah Dosen Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Sriwijaya



