Jumat, 03 Jun 2016 - 00:47:00 WIB - Viewer : 5916

Amir : Dimana Hati Nuranimu Pejabat

Alam

AMPERA.CO/AT.PUTRA
proses pembongkaran lapak pedagang

AMPERA.CO, PALEMBANG - Pasar pagi yang berada di Jalan Gubernur H Bastari, Jakabaring Palembang, tepatnya disamping Polresta Palembang, lebih ramai dari hari biasanya, bukan banyak konsumen yang akan membeli kebutuhan sehari-hari. Tapi dikarenakan pembongkaran lapak milik Pedagang Kaki Lima (PKL) oleh, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Palembang.

Penertiban dalam rangka menyambut bulan suci Ramdan itu, bukan hanya dilakukan dikawasan tersebut, sudah puluhan lokasi yang berhasil ditertibkan oleh Satpol PP Palembang, guna memberikan kenyamanan bagi masyarakat dalam melakukan aktifitas berbelanja. Pasalnya lapak yang dijadikan PKL sebagai tempat menjajakan dagangannya merupakan Fasilitas Umum (Fasum).

Kabid Tibum dan Tranmas, Satpol PP Palembang S Hendra, mengatakan, pihaknya sudah menertibkan puluhan pasar, diantaranya, pasar 10 Ulu, 7 Ulu, Sako, Lemabang, Gandus dan masih banyak lagi pasar lainnya.

"Kita sudah berikan surat peringatan (SP) kepada mereka untuk segera melakukan pembongkaran. Namun, mereka tidak mengindahkan perintah tersebut,"katanya, disela-sela pembongkaran, Kamis (2/6).

Menurut dia, pihaknya tidak bisa lagi menunda-nunda pembongkaran. Karena yang dijadikan lapak merupakan Fasum yakni akses jalan warga. ia mengaku dalam melaksanakan tugas tersebut, pihaknya sudah berkoordinasi dengan pihak Kepolisian maupun pihak terkait lainnya.

"Yang pasti sudah mendapat izin Walikota. Kasian dengan masyarakat lain, karena kenyamanannya terganggu akibat maraknya PKL yang memakan badan jalan sebagai lapak berjualan,"ujarnya.

Tapi, dibalik setiap pembongkaran lapak atau penertiban PKL, pasti ada jeritan sendiri dari PKL yang merasa kehilangan mata pencaharian, akibat penertiban tersebut.

Misalnya, Amir salah seorang PKL ini mengaku, pihaknya sudah memohon kepada Satpol PP untuk menunda proses pembongkaran. Minimal usai Lebaran, tapi permintaan itu ditolak secara menta-menta, dengan alasan hal tersebut untuk memberikan kenyamanan bagi masyarakat.

"Satpol PP tidak pernah memikirkan nasib kami, pihak Satpol PP hanya membongkar tanpa ada solusi yang jelas bagi kami pedagang, dimana hati nuranimu pejabat,"katanya, dengan mata sedikit berkaca-kaca.

Amir mengaku, ia sudah mulai berjualan dikawasan tersebut sudah semenjak 16 tahun lalu, guna memenuhi nafkah anak dan istri dirumah.

"Penghasilan kami tidak besar, tapi disinilah tempat saya menghidupi istri dan anak saya, tapi kalau sudah dibongkar seperti ini, apa boleh buat,"pungkasnya.

Feri

    Simak Berita lainnya seputar topik artikel ini :

  • palembang