Jumat, 03 Apr 2015 - 23:02:52 WIB - Viewer : 5636

Beda Blusukan ala Umar bin Khattab dengan Politisi Negeri ini?

Oleh : Feri Yuliansyah

AMPERA.CO - Ada fenomena menarik yang terjadi di masyarakat beberapa bulan silam, saat menjelang pemilu dan juga setelah pelantikan presiden baru. Saat ini, siapa sih yang tidak kenal dengan istilah "Blusukan". Hampir sebagian besar masyarakat tahu tentang blusukan, dan saat ini telah tercitra dimasyarakat bahwa istilah blusukan dianggap trade-mark pak Jokowi, presiden Indonesia saat ini, yang saat ini telah menular kepada pejabat negara lainnya baik pejabat negara dan juga pejabat daerah.

Blusukan dalam istilah umum adalah kegiatan mengunjungi masyarakat di tempat-tempat yang terdalam dari sebuah wilayah, biasanya tempat-tempat tersebut identik dengan tempat yang membutuhkan banyak pembangunan , kalau tidak boleh dikatakan kumuh.

Blusukan biasanya dilakukan seorang pemimpin untuk mengetahui kondisi rakyatnya lebih dekat dan objektif. Cara ini dilakukan sang pemimpin dengan masuk secara langsung ke dalam kampung, bertatap muka dengan rakyat, dan melepas segala atribut istana dan protokoler yang melekat di dirinya. Tujuannya hanya satu, mengetahui bagaimana keadaan rakyat yang sebenarnya. Sehingga dengan upaya itu, sang pemimpin dapat mengambil kebijakan yang lebih tepat dan menyentuh. Namun dalam praktiknya saat ini, cara tulus seperti itu seringkali disalahgunakan menjadi alat pencitraan bagi politisi tertentu agar mendapat simpatik publik dengan memanfaatkan publikasi media luas. Saat ini, banyak sekali media sosial maupun media-media nasional lain di tanah air dipenuhi dengan pemberitaan tentang para politisi dan pejabat negeri yang dicitrakan tak sungkan mengunjungi tempat - tempat tersebut. menyapa masyarakat dan berinteraksi dengan mereka, kalau perlu ikut menyapu lantai rumah sekitar, yang penting terekam kamera. Padahal seyogyanya blusukan tidak diketahui, dan menjadi semacam operasi senyap sang pemimpin.

Sahabat Rasulullah yang bergelar Al-Faruq ini dikisahkan dalam sejumlah referensi sejarah Islam, gemar keluar di malam hari untuk melihat kondisi rakyatnya. Meski sebagai khalifah, Umar hidup sangat sederhana. Meski berada di puncak kekuasaan, Umar tidak gelap harta. Meski memiliki otoritas, Umar tetap menyadari kedudukannya sebagai hamba Allah dan pelayan rakyatnya.

Setelah Nabi Muhammad saw wafat, kepemimpinan Islam digantikan dengan kekhalifahan. Umar bin Khattab menjadi khalifah kedua, setelah Khalifah Abu Bakar As-Siddiq.

Tahukah kita kebiasaan Umar bin Khattab saat menadi khalifah? Ya, dia adalah khalifah yang paling rajin menginvestigasi rakyatnya dari dekat. mungkin sama seperti politisi-politisi era sekarang ya. Bedanya Umar tidak membawa tim sukses apalagi kamera dan wartawan. Dia berjalan sendirian di malam hari. 

Hingga pada suatu malam, ia menjumpai sebuah gubuk kecil, yang membuat Umar tertarik untuk terus mendekat adalah suara anak - anak kecil yang tak kunjung juga reda. Ketika Umar memperhatikan dari luar, ternyata ada seorang ibu yang terlihat sedang memasak, ibu tersebut dikelilingi oleh anak - anaknya yang masih kecil - kecil sembari menangis. 

Si ibu berkata kepada anak-anaknya, "Tunggulah...! Sebentar lagi makanannya matang." 

Umar memperhatikan dari luar, si ibu terus menerus menenangkan anak-anaknya dan mengulangi perkataannya bahwa makanan yang dimasaknya akan segera matang. Umar menjadi sangat penasaran, karena yang dimasak oleh ibu itu tidak kunjung matang, padahal sudah lama dia memasaknya.

Akhirnya Umar memutuskan untuk menemui ibu itu.

"Mengapa anak-anakmu tidak juga berhenti menangis, bu..?" tanya Umar.

"Mereka sangat lapar," jawab si ibu.

"Kenapa tidak cepat engkau berikan makanan yang dimasak dari tadi itu?" tanya Umar.

"Kami tidak ada makanan. Periuk yang dari tadi aku masak hanya berisi batu untuk mendiamkan mereka. Biarlah mereka berpikir bahwa periuk itu berisi makanan, dengan begitu mereka akan berhenti menangis karena kelelahan dan tertidur." jawab si ibu.

Setelah mendengar jawab si ibu, Umar menjadi sangat sedih sekali, kemudian dia bertanya lagi, "Apakah ibu sering berbuat demikian setiap hari?"

"Iya, saya sudah tidak memiliki keluarga atau pun suami tempat saya bergantung, saya sebatang kara...," jawab si ibu.

Hati Umar seperti teriris sembilu demi mendengar jawaban dari ibu tersebut. 

"Mengapa ibu tidak meminta pertolongan kepada Khalifah supaya ia dapat menolong dengan bantuan uang dari Baitul Mal?" tanya Umar lagi.

"Ia telah zalim kepada saya...," jawab si ibu.

"Zalim....," kata Umar dengan sedihnya.

"Iya, saya sangat menyesalkan pemerintahannya. Seharusnya ia melihat kondisi rakyatnya. Siapa tahu ada banyak orang yang senasib dengan saya!" kata si ibu.

Umar bin Khattab kemudian berdiri dan berkata,"Tunggulah sebentar, bu. Saya akan segera kembali."

Di malam yang semakin larut dan hembusan angin terasa kencang menusuk, Umar segera bergegas menuju Baitul Mal di Madinah. Ia segera mengangkat sekarung gandum yang besar di pundaknya ditemani oleh sahabatnya Ibnu Abbas. Sahabatnya membawa minyak samin untuk memasak. Jarak antara Madinah dengan rumah ibu itu terbilang jauh, hingga membuat keringat bercucuran dengan derasnya dari tubuh Umar. 

Melihat hal ini, Abbas berniat untuk menggantikan Umar untuk mengangkat karung yang dibawanya itu, tapi Umar menolak sambil berkata, "Tidak akan aku biarkan engkau membawa dosa-dosaku di akhirat kelak. Biarkan aku bawa karung besar ini karena aku merasa sudah begitu bersalah atas apa yang terjadi pada ibu dan anak-anaknya itu."

Beberapa lama kemudian sampailah Umar dan Abbas di gubuk ibu itu. Begitu sekarung gandum dan minyak samin itu diserahkan, bukan main gembiranya mereka. Ibu tersebut langsung memasakan untuk anak-anaknya. Setelah itu, Umar berpesan agar ibu itu datang menemui Khalifah keesokan harinya untuk mendaftarkan dirinya dan anak-anaknya di Baitul Mal.

Setelah keesokan harinya, ibu dan anak-anaknya pergi untuk menemui Khalifah. Dan betapa sangat terkejutnya si ibu begitu menyaksikan bahwa lelaki yang telah menolongnya tadi malam adalah Khalifahnya sendiri, Khalifah Umar bin Khattab. Segera saja si ibu minta maaf atas kekeliruannya yang telah menilai bahwa khalifahnya zalim terhadapnya. Namun Sang Umar tetap mengaku bahwa dirinyalah yang telah bersalah.

Inilah salah satu contoh politisi di zaman kekhalifahan Islam. Seorang Umar bin Khattab yang kala itu menjadi Khalifah. Umar blusukan demi untuk membantu rakyatnya, bukan untuk mendapatkan gambar ‘pencitraan” seperti politisi dan pejabat negeri saat ini. Namun, inilah uniknya Indonesia. Semoga Allah swt, tetap melimpahkan rahmat dan rezeki kepada bangsa Indonesia. amien  

(dari berbagai sumber)

Komentar Berita