Selasa, 22 Nov 2016 - 02:04:00 WIB - Viewer : 7044

Berpotensi Menjatuhkan Pemerintah, Seruan Rush Money 2511 Harus disikapi Secara Arif

aksi damai 411

AMPERA.CO, Jakarta - Seruan unjuk rasa 25 November 2016 dengan aksi tarik uang di bank secara bersama-sama (rush money) dalam jumlah besar harus disikapi secara arif karena berpotensi melengserkan Jokowi dari kursi Presiden RI. Aksi yang merupakan lanjutan dari aksi damai 4 November 2016 ini menuntut agar Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang telah ditetapkan sebagai tersangka kasus penistaan agama untuk ditahan, harus tetap fokus pada tujuan awal.

“Rush Money akan menimbulkan tiga aspek, yakni ekonomi, sosial, dan politik. Akan timbul kekacauan dalam sistem perbankan. Bank akan kekurangan uang, sehingga menimbulkan gejolak ekonomi. Bank Indonesia (BI) akan kewalahan dan tidak mungkin mendistribusikan uang dalam jumlah banyak pada waktu bersamaan,” ujar Analis Ekonomi dan Politik Labor Institute Indonesia, Andy William Sinaga kepada pojoksatu.id, Senin (14/11/16).

Menurut Andy, gerakan Rush Money yang rencananya akan dilakukan pada 25 November 2016 oleh mayoritas umat Islam di Indonesia jika tuntutan mereka tak dipenuhi pemerintah dan polri ini akan menimbulkan keresahan di masyarakat karena bank akan kewalahan memenuhi permintaan masyarakat yang begitu tinggi.

“Ini akan menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat kepada pemerintah. Kasus Soeharto bisa terulang. Kasus kerusuhan Mei membuat masyarakat ketakutan. Saya juga mengalami, antre di bank,” imbuh Andy.

Sementara itu ekonom Indonesia, Ichsanuddin Noersy mengatakan dalam era demokrasi dewasa ini kekuatan uang sangat menentukan jalannya kekuasaan, mahalnya biaya politik membuat kandidat melakukan sungkeman kepada para pemodal yang memiliki jaringan korporasi.

Imbasnya kekuasaan yang diamanatkan oleh rakyat kepada seorang pejabat, serta jalannya pemerintah akan tersandera dan dikendalikan oleh kaum pemodal.

“Coba bayangkan, berapa kemampuan seorang calon untuk mengeluarkan dana dari kantongnya pribadi,” kata Noersy, Sabtu (19/11) yang dilansir aktual.com.

Maka dari itu dia melihat, ancaman dari aksi tarik uang atau rush money merupakan perkara perang antara uang lawan uang dalam mempengaruhi kekuasaan.

“Ini perang uang lawan uang. Jalan yang satu mempengaruhi kekuasaan lewat sogok, mengatur suara untuk mengendalikan kebijakan dan kekuasaan, yang satunya lagi menekan dengan menarik uangnya sendiri dari perbankan,” tambahnya.

Lebih jauh dia mengungkapkan pada saat ini terdapat sebanyak Rp4.576 triliun dana distribusi di perbankan atau dana pihak ketiga, dari jumlah tersebut, sebanyak Rp2.655 triliun atau 46 persen merupakan milik orang Islam.

Dia mengaku khawatir jika ancaman umat islam Indonesia untuk melakukan Rush Money sebagai bentuk protes atas dugaan penistaan agam yang dilakukan oleh Basuki Tjhaja Purnama (Ahok), jika acaman itu benar benar terjadi, maka akan beresiko fatal bagi kondisi negara.

“Saya khawatir, jika saja 20 persen dari Rp2.655 dana milik orang islam itu ditarik, itu memberi dampak kejatuhan rupiah yang berujung politic risk. Ekonomi negara kita ini rapuh” tuturnya.

Untuk itu dia berharap kepada pemerintah agar mampu memberi keadilan dan mendinginkan ketegangan sosial yang terjadi pada saat ini. Dia berpesan kepada presiden Jokowi agar menjadi negarawan.

Sementara dari pihak pemerintah, terutama dari sektor ekonomi dan keuangan sudah terlihat panik. Semua sudah angkat bicara. Mulai dari Menteri Keuangan, Menko Perekonomian hingga Gubernur Indonesia menilai rush money merupakan ancaman yang serius bagi negara.

Bahkan Kapolri Jenderal Tito Karnavian dengan tegas mengeluarkan pernyataan akan melacak dan menangkap bagi siapa saja yang memprovokasi agar terjadi rush money.

“Itu provokatif dan kami dari kepolisian akan melacaknya, kita melacak, dan kita akan melakukan penangkapan,” ujar Tito di kantor MUI, Jl Proklamasi, Jakpus, Jumat (18/11).

Tito mengatakan sudah memerintahkan Bareskrim dan Polda Metro untuk mencari penyebar isu tersebut. Semua jaringan ditelusuri.

“Semua kelompok jaringan cyber kita investigasi untuk melakukan pelacakan,” pungkas Tito

Sebagaimana diketahui, Seruan tarik uang di bank 25 November 2016 sudah digaungkan sejumlah tokoh agama di media sosial (medsos) dan aplikasi WhatsApp. Aksi rush money diyakini mampu menggoyahkan perekonomian Indonesia.

Target Rush Money 25 November yakni menguras cadangan uang di bank sebesar Rp 100 triliun. Untuk mencapai target tersebut, para pengusaha muslim diminta menarik uangnya di bank dalam jumlah besar. Sedangkan masyarakat menengah ke bawah dianjurkan menarik uangnya di bank Rp 2 juta per orang.

dari berbagai sumber