Selasa, 13 Sep 2022 - 10:19:00 WIB - Viewer : 11588
Cikal Bakal Literasi Sains di Sekolah
AMPERA.CO - Ketika mendengar kata literasi, secara umum, otomatis akan membuat setiap orang berpikir tentang kemampuan menulis dan membaca. Memang pada awalnya makna literasi adalah kemampuan seseorang dalam mengolah dan memahami informasi saat melakukan proses membaca dan menulis. Tetapi pada saat ini kata literasi sudah berkembang sesuai dengan tantangan perkembangan zaman yang tidak hanya sebatas kemampuan membaca dan menulis, tetapi sudah berkembang secara luas di seluruh bidang.
Direktorat SMP Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia menyatakan bahwa terdapat enam literasi dasar yang wajib dimiliki siswa SMP yaitu literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi finansial, literasi kebudayaan dan kewargaan, literasi digital, dan literasi sains. Semua literasi tersebut tetap bermuara pada literasi baca dan tulis sebagai kemampuan dasarnya. Sebagai salah satu dari enam literasi dasar yang wajib dimiliki siswa SMP, literasi sains dapat dianggap sebagai suatu bentuk pencapaian pembelajaran sains berbasis literasi. Dirangkum dari berbagai sumber, literasi sains tidak sekedar pemahaman tentang pengetahuan sains, namun juga berpengaruh terhadap tindakan dan pola pikir terkait pengetahuan sains yang dimiliki. Melalui literasi sains, penguasaan konsep dasar sains dan teknologi diharapkan dapat membantu menyelesaikan permasalahan kehidupan. Namun demikian, bukan berarti setiap orang harus menjadi pakar sains untuk mampu berperan dalam membuat pilihan yang memiliki dampak pada kehidupan.
Penggunaan istilah listerasi sains dalam dunia pendidikan dianggap sebagai suatu istilah atau kegiatan yang bersifat baru. Padahal selama ini tanpa disadari dalam melakukan aktivitas sehari- hari setiap orang telah melakukan kegiatan literasi sains. Hal ini merupakan hal yang wajar karena istilah literasi sains, baru didengungkan secara resmi oleh pemerintah khususnya pada bidang pendidikan dengan melihat hasil pencapaian literasi sains siswa dalam PISA. Indonesia termasuk dalam tingkatan rendah yaitu posisi 10 terbawah. Padahal hasil ini merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam penentuan kualitas pendidikan di suatu negara.
Literasi sains merupakan salah satu keterampilan yang diperlukan di abad 21 diantara 16 keterampilan yang diidentifikasi oleh World Economic Forum. Dari hasil ini terlihat bagaimana pentingnya gerakan literasi sains bagi dunia pendidikan khususnya di Indonesia. Penyebutan istilah literasi sains dalam kehidupan sehari-hari jarang diketahui oleh banyak orang. Namun, tanpa disadari setiap orang telah melakukan kegiatan berliterasi sains. Menumbuhkan kesadaran literasi sains bagi siswa, guru dan masyarakat yang terlibat dalam dunia pendidikan dapat dilakukan dengan membiasakan gerakan literasi sains yang diterapkan di sekolah.
Sekolah-sekolah yang berada dekat pusat kota cenderung tidak mengalami masalah dalam penerapan gerakan literasi sains dikarenakan cukupnya dukungan dari sekolah, masyarakat dan pemaham guru tentang literasi sains. Misalnya tersedia taman- taman pendidikan, adanya perpustakaan daerah, fasilitas sekolah yang lengkap, berbagai spanduk mengenai hemat energi dan air, spanduk mencegah kebakaran, spanduk menjaga lingkungan tetap bersih dan tidak membuang sampah sembarangan dan masih banyak lagi. Lain halnya dengan sekolah-sekolah yang jauh dari pusat kota. Keterbatasan guru dalam memahami makna literasi itu yang seperti apa, menjadikan guru merasa tidak mempunyai kemampuan karena guru menganggap bahwa literasi adalah salah satu bentuk baru yang akan diterapkan dalam pembelajaran sesuai dengan kurikulum 2013. Artinya, sebenarnya penumbuhan literasi sains mungkin saja telah dilaksanakan namun para guru belum memahaminya.
Tidak lama ini, penulis mengunjungi SMP Negeri 3 Gelumbang yang terletak Kabupaten Muara Enim. Lokasi sekolah berada disekitar perkebunan karet dan jauh dari pusat kota dan siswanya berasal dari daerah di sekitar sekolah. Hasil diskusi dengan guru-guru di sekolah tersebut menunjukkan bahwa pemahaman guru terhadap apa yang dimaksud literasi sains tergolong masih kurang. Namun demikian, hasil observasi yang kami lakukan terhadap kondisi sekolah ditemukan beberapa bentuk kegiatan yang sebenarnya dapat digolongkan sebagai cikal bakal penumbuhan literasi sains di sekolah tersebut.
Perlu diketahui bahwa penumbuhan literasi sains di sekolah dapat dilihat dari budaya kelas, sekolah, dan masyarakat. Beberapa kegiatan yang ditemukan di SMP N 3 Gelumbang antara lain adanya poster-poster bertema lingkungan, kolam ikan, pelaksanaan lomba 17 Agustus bertema lingkungan, warung kejujuran, mading (majalah dinding) yang digunakan untuk menempelkan karya siswa, kerajinan dari barang bekas, dan fasilitas bagi siswa untuk bermain congklak saat jam istirahat. Selain itu, masyarakat sekitar baik orang tua/wali siswa ataupun peternakan ayam yang berada di sekitar sekolah memberikan andil yang sangat baik terhadap kegiatan sekolah seperti pemberian bantuan berupa tong sampah dan donatur kegiatan yang dilakukan di sekolah seperti kegiatan lomba-lomba perayaan hari kemerdekaan 17 Agustus seperti yang telah disebutkan di atas. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana bisa kegiatan-kegiatan itu dikatakan menjadi cikal bakal penumbuhan gerakan literasi sains di sekolah?
Adanya mading yang berisi karya siswa dan kerajinan barang bekas yang dimanfaatkan untuk dekorasi sekolah dapat dikatakan sebagai salah satu bentuk nyata dari penumbuhan literasi sains ditinjau dari budaya kelas. Lebih lanjut, adanya poster-poster bertema lingkungan, kolam ikan, pelaksanaan lomba 17 Agustus bertema lingkungan, warung kejujuran, dan fasilitas bagi siswa untuk bermain congklak merupakan penumbuhan literasi sains ditinjau dari budaya sekolah. Terakhir, ditinjau dari budaya masyarakat, uraian sebelumnya dengan jelas menunjukkan bahwa masyarakat sekitar memberikan kontribusi nyata bagi sekolah.
Kembali ke pernyataan “sebenarnya penumbuhan literasi sains mungkin saja telah dilaksanakan namun para guru belum memahaminya”. Pernyataan tersebut seharusnya menjadi PR bagi dinas pendidikan, LPTK, dan praktisi kependidikan untuk lebih gencar lagi untuk memberikan sosialisasi gerakan literasi sains di sekolah. Bukan tanpa sebab bahwa literasi sains di sekolah itu penting. Dikutip dari paper Babalola J. Ogunkola. Ph.D. yang diterbitkan di Journal of Educational and Social Research tahun 2013 “how important is scientific literacy?”: It’s important because it help citizen to comprehend the potentials and abuses of science and to make informed decisions about basic everyday problems and vote on the numerous issues that require some science knowledge. Bagi para guru, mari sama-sama cermati sekolah masing-masing, kontribusi apa yang telah kita berikan dalam penumbuhan gerakan literasi sains di sekolah. Jika belum, tidak ada kata terlambat untuk memulainya. Salam literasi.



