Senin, 06 Apr 2015 - 02:53:53 WIB - Viewer : 6044
Faisal Basri, Kenaikan Harga Premium Tidak Wajar
AMPERA.CO, Jakarta - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis premium menjadi Rp 7.300/liter, dan solar Rp 6.900/liter mulai 28 maret 2015 kemarin dinilai Faisal Basri tidak wajar. Alasannya, menurut Pria yang merupakan Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi ini, harga BBM yang jenisnya lebih bagus dari premium (RON 88), dijual dengan harga yang lebih murah di negara tetangga kita seperti Malaysia.
Di Malaysia, harga bensin RON 97 dijual hanya Rp 7.971/liter. Bahkan harga bensin RON 95 sekelas pertamax plus di Malaysia, sejak Maret adalah Rp 6.908/liter.
"Hari ini harga bensin RON 97 di Malaysia cuma Rp 7.971/liter, itu sudah termasuk pajak GST (Goods and Services Tax) 6%," ungkap Faisal Basri yang dikutip AMPERA.CO dari detik finance, kamis (2/4/2015)
Faisal mengatakan hitungan harga bensin RON 95 di Malaysia Rp 6.908/liter, berdasarkan kurs Bank Indonesia (BI) pada 31 Maret 2015.
“Saya hitungnya pakai kurs jual, bukan kurs beli. Itu sudah saya murah-murahin, masih saja tetap lebih murah dibandingkan bensin kita di Indonesia, terutama premium. Jadi hari ini, bensin premium RON 88 di Indonesia lebih mahal daripada bensin RON 95 di Malaysia," tambah faisal.
Faisal Basri menyarakan agar pemerintah segera menghapus BBM jenis premium, dan yang dijual hanyalah BBM sejenis pertamax yang punya patokan harga yang jelas yaitu MOPS (Means of Platts Singapore).
Menurutnya bensin RON 88 lah yang menjadi biang kerok Harga BBM di Indonesia bisa lebih mahal daripada Malaysia. hal ini terjadi karena sudah tak ada lagi bensin premium yang dijual pasar internasional, sehingga penetapan harganya menggunakan formula harga BBM yang dibuat oleh pemerintah. Sementara formula penetapan harga BBM yang dibuat pun selalu berubah-ubah.
Sebelum Januari 2015 untuk menghitung alpha BBM formulanya 3,32% x MOPS 92 + Rp 448, sehingga alphanya jadi Rp 728.
Setelah 1 Januari, formulanya berubah lagi, yaitu 3,92% dikali Harga Indeks Pasar (HIP) + Rp 672, jadi alphanya Rp 891/liter.
Kemudian pada 19 Januari 2015, formulanya berubah menjadi 3,92% x HIP + Rp 1.022/liter, jadi alphanya Rp 1.195/liter.
"Itu yang membuat harga premiun jadi lebih mahal mendekati Pertamax, harusnya nggak perlu ada formula seperti ini. Harusnya pakai MOPS 92," katanya.
Pihaknya sejak awal meminta, agar premium dihapuskan, karena menurutnya kalau premium dihapus, maka tidak akan ada lagi formula aneh yang menentukan harga premium. (fyo)



