Minggu, 31 Mei 2015 - 02:10:22 WIB - Viewer : 5636

Honeywell Luncurkan Solusi Keamanan Cyber untuk Sektor Industri

istimewa

AMPERA.CO, Jakarta - Honeywell Process Solutions (HPS), perusahaan teknologi diversifikasi dan manufaktur asal amerika serikat meluncurkan platform digital pertama yang dirancang untuk secara proaktif memantau, mengukur, dan mengelola risiko keamanan di dunia maya untuk sistem pengendalian fasilitas penyulingan minyak bumi, pembangkit listrik, dan fasilitas produksi bersistem otomatis lainnya di seluruh dunia yang semakin berisiko mengalami serangan cyber.

Platform digital yang diberi nama Honeywell Industrial Cyber Security Risk Manager ini dirancang untuk memudahkan tugas pengidentifikasian risiko keamanan cyber, sehingga dapat memberikan visibilitas secara real-time, pemahaman, dan pembuatan keputusan yang dibutuhkan. Solusi ini memantau dan mengukur risiko keamanan cyber di ekosistem industri yang multi vendor.

Mengacu pada hasil survey global terhadap keamanan cyber yang dilaksanakan oleh Ipsos Public Affairs pada September 2014, ancaman serangan cyber pada sektor industri telah menjadi perhatian utama. Responden yang terdiri dari 5000 orang dewasa di 10 negara mendapat sejumlah pertanyaan terkait serangan cyber terhadap berbagai industri penting di negara mereka masing-masing. Tiga perempat responden menyatakan kalau mereka khawatir serangan cyber dapat meretas dan mengendalikan sejumlah sektor perekonomian. Dua pertiga menggagap industri migas, kimia, dan energi adalah yang paling rentan terhadap serangan cyber.

"Untuk memahami berbagai risiko keamanan cyber, para pelaku industri kini menghadapi tantangan yang semakin kompleks," ujar kepala unit Global Cyber Security Business HPS, Jeff Zindel. "Namun ironisnya, mereka kerap tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan data yang mereka peroleh atau apa yang harus mereka lakukan jika terjadi gangguan atau galat. Solusi Risk Manager mengatasi persoalan tersebut. Solusi ini memberikan panduan terhadap dampak potensial dari ancaman dan kelemahan sistem, dan tentunya memberikan solusi untuk mengatasinya, sehingga memudahkan pengguna untuk mengelola risiko keamanan cyber."

Risk Manager menggunakan berbagai teknologi canggih yang mengolah beragam indikator keamanan cyber yang kompleks menjadi tahapan-tahapan yang jelas dan indikator kinerja utama (KPI), dan memberikan informasi penting melalui tampilan antarmuka yang mudah dipahami. Alur kerja intuitif memungkinkan pengguna untuk membuat tanda notifikasi risiko khusus dan menjalani analisis ancaman dan kelemahan yang mendetail, sehingga mereka dapat fokus terhadap pengelolaan risiko yang notabene adalah hal terpenting untuk mewujudkan operasi pabrik yang efektif dan handal.

"Tak diragukan lagi, fasilitas industri adalah target utama dari serangan cyber. Keberlanjutan keamanan dan operasional menuntut pemahaman yang jelas dari risiko-risiko yang serius dan terus berevolusi ini dan sebuah program yang dapat menjamin kalau risiko-risiko tersebut dapat dikelola dengan baik. Meskipun banyak perusahaan yang menyadari pentingnya hal ini, faktanya, orang-orang di lapangan masih kesulitan untuk mengkaji dan mengelola risiko cyber dengan benar," ungkap wakil direktur ARC Advisory Group, Sid Snitkin. "Oleh karena itu, kami sangat mengapresiasi keberhasilan Honeywell mengembangkan Industrial Cyber Security Risk Manager. Menurut kami, solusi ini adalah yang paling komprehensif dan mudah dipahami yang dapat memenuhi kebutuhan para staf TI operasional, otomasi, dan manufaktur."

"Dengan hadirnya Risk Manager, konsumen industri tak perlu menjadi ahli keamanan cyber," kata Zindel. "Tampilan antarmuka yang sangat mudah dipahami memudahkan pengguna untuk memprioritaskan dan memfokuskan tindakan terhadap pengelolaan risiko yang paling penting untuk mewujudkan operasional pabrik yang efektif dan handal, sehingga dapat melindungi fasilitas industri dari berbagai ancaman dan kelemahan seperti jaringan internet dan konfigurasi sistem yang tidak aman, perangkat yang tak terotorisasi (rogue devices), percobaan penyusupan, malware, dan masih banyak lagi."

Feri Yuliansyah