Kamis, 14 Sep 2017 - 17:03:00 WIB - Viewer : 871

Lahan Akan Dikuasai Pengusaha, Warga Melawan

Rep : AT. Putra/ed:Feri

Ampera.co

AMPERA.CO, Palembang - Rencana pengukuran lahan yang akan di lakukan oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN) terhadap, lahan warga Kelurahan Sri Mulya dan Kelurahan Sukamulya, Kecamatan Sematang Borang seluas 405 hektar tidak jadi dilaksanakan. Karena ribuan warga menolak.

Tanah seluas 405 hektar itu merupakan lahan milik 8.000 lebih Kepala Keluarga (KK) dari dua Kelurahan, yang diketahui ingin diukuasai oleh pengusaha kelas kakap di Bumi Sriwijaya bernama Kms H Halim.

Berdasarkan pantauan, Kamis (14/9), pukul 09.30 WIB, ribuan warga mulai berkumpul di Simpang 3 Jalan Jepang menuju Kantor Camat Sematang Borang dan melakukan orasi, dan menutup semua akses lalu lintas menuju lokasi lahan yang akan diukur ulang oleh BPN di wilayah Kecamatan Sematang Borang.

BPN yang datang dikawal langsung oleh Polda Sumsel dan Polresta Palembang, mencoba menerobos barikade rakyat yang mengahadang. Tapi, upaya itu gagal dilakukan, meskipun berbagai ancaman keluar dari penegak hukum.

"Apa yang kami lakukan untuk kepentingan penyelidikan, jadi kami akan tetap maju dan lakukan pengukuran,"Kata Direskrimum Polda Sumsel Kombes Pol Prasetijo Utomo didampingi Kapolresta Palembang dan ratusan personel Polisi lainnya.

Perwakilan warga, Erwin Ermajid mengatakan, ia dan warga tidak gentar dengan adanya berbagai ancaman. Karena, lahan yang ditempati warga saat ini milik warga itu sendiri, bukan milik H Halim

"Tanah milik warga, bukan milik H Halim. Sampai kapanpun kami tidak akan bersedia lahan yang kami tinggali puluhan tahun dilakukan pengukuran oleh BPN atas kepentingan apapun itu,"katanya disambut teriakan semngat dari warga.

Erwin menjelaskan, apa yang akan di lakukan oleh pihak BPN yang pihak kepolisian, disinyalir bagian dari pemaksaan untuk penguasaan lahan.

Karena, sebetulnya pemerintah kota (Pemkot) Palembang sudah punya data, bahkan BPN juga sudah mengeluarkan surat SHM kepemilikan warga.

"Jangan pengukuran dijadikan alasan pihak kepolisian untuk memaksakan diri. Kenapa jika masyarakat yang meminta tidak pernah dipenuhi, seperti ada masyarakat yang ingin meningkatkan status lahan,"katanya.

Salah seorang warga, Abubakar mengatakan, ia dan warga lainnya sudah puluhan tahun tinggal di Kelurahan Srimulya, tiba-tiba pengusaha ingin menguasai lahan warga.

"Ini mau merapok. Ini lahan kami, bukan punya pengusaha. Kalau semua lahan disini seluas 405 hektar diklaim milik H Halim, sekalian saja semua lahan di Palembang ini akui milik dia,"katanya kesal.

Setelah melalui berbagai negosiasi, akhirnya pengacara dari H Halim dan pengacara warga didampingi pihak BPN dan Kepolisian, sepakat untuk musyawarah yang akan dilakukan di DPRD Palembang.

Sekitar pukul 15.00 WIB, akhirnya Polisi dan warga membubarkan diri.

    TAGS   :

Komentar Berita