Kamis, 01 Des 2016 - 15:35:00 WIB - Viewer : 8436

Memaknai Hakikat NKRI dan Politik "NKRI"

opini oleh : TG.Fekri Juliansyah *

Belakangan ini santer kita dengar dan banyak pihak-pihak yang mendengungkan istilah NKRI. Singkatan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

Sepintas, siapapun yang mendengar dapat tersugesti dan dapat membangkitkan jiwa nasionalisme dan patriotisme.
Tidak sedikit sahabat-sahabat di Media Sosial yang tertarik dengan istilah ini atau bahkan berkoar-koar mengatasnamakan NKRI Bahkan digalang dan dikemas sedemikian rupa untuk melawan aksi 411 dan 212 yang dianggap dapat "memecah belah" atau merusak tatanan NKRI.Hmmmm.

Sungguh ironi, Aksi 411 yang demikian hebat baik dalam tataran jumlah peserta maupun dari segi semangat para peserta lalu dianggap sebuah gerakan politik terkait pilkada DKI Jakarta? Aksi ini dianggap sebagai gejala merusak kebhinekaan dan NKRI. Bahkan Aksi 212 yang akan berlangsung besok juga ditengarai sebagai bagian dari Makar dan menggulingkan Presiden?

Itulah prasangka buruk terhadap aksi moril dan murni yang tumbuh dari Umat yang mencintai agama-NYA dan membela Kitab Sucinya ketika Agama dan Kitab sucinya dinistakan.

NKRI itu sejatinya dimiliki oleh para pendiri negeri ini. Hakikat NKRI ini juga dimiliki para ulama, habib, kyai dan para spiritual di negeri ini untuk memperjuangkan kemerdekaan negeri ini.

Menilik sejarah perjuangan Pergerakan Kemerdekaan Indonesia dimulai dengan Budi Oetomo pada 20 Mei 1908 yang dihadiri berbagai etnis di nusantara dilanjutkan dengan Kongres Sentral Syarikat Islam berlangsung di Bandung pada 17 - 24 Juni 1916 yang diikuti 16.000 peserta dari berbagai suku/etnis di nusantara termasuk suku Semende dan terdiri dari 80 Cabang Syarikat Islam di Nusantara hingga Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 menunjukkan bahwa negeri ini dibangun dengan kebhinekaan. Namun tak dapat dipungkiri bahwa kebhinekaan itu lebih kepada suku dan etnis bukan kebhinekaan pada agama. Kendati demikian, sebagai agama mayoritas, Islam sangat menghargai toleransi dengan agama lain seperti yang tercantum dalam Al Quran Surat Al Kafiirun ayat 6 yang bermakna "Untukmu, agamamu, Untukku, agamaku".

Perjuangan para ulama itu pun hingga Republik ini berdiri, 17 Agustus 1945. Bung Karno dan Bung Hatta adalah pemeluk agama yang taat yang berdiri atas sokongan para ulama dan para Habib. Maka sejatinya negeri ini dimerdekakan oleh para Mujahid dan para ulama.

Maka ketika ada Aksi bertajuk Bhineka Tungga Ika dan dengan alasan "NKRI" ini adalah gerakan politik dan tandingan terhadap aksi 411 yang lalu. Lucunya aksi tersebut hanya diikuti segelintir orang saja yang sengaja terkesan dipaksakan untuk membuat opini bahwa Aksi 411 dapat membahayakan bagi NKRI. Drama pun dibuat dengan berbagai ornamen dan kostum kebhinekaan termasuk para aktivis LGBT yang justru hal ini sangat ditentang dalam agama Islam, agama mayoritas di Republik ini.

Saya berpendapat, gerakan-gerakan kecil yang dibangun mengatasnamakan NKRI belakangan ini justru terkesan sebuah hal yang politis dan dramatis.
Aksi-aksi tandingan itu takkan mampu mengalahkan Aksi murni yang dilaksanakan para penggandrung sejati NKRI pada 411 dan 212 esok hari karena dibangun dengan patriotisme para Santri-santri dan rakyat yang menuntut keadilan demi tegaknya NKRI di Republik ini.
Lihat saja, 10.000 lebih santri dan peserta aksi dari Ciamis berbondong-bondong dengan rela berjalan kaki demi untuk membela Agama dan Al Quran yang dinistakan oleh Ahok, Sang Penista Agama. Belum lagi santri-santri dan para peserta Aksi dari berbagai penjuru tanah air yang juga berjuang untuk dapat ikut serta pada sebuah kegiatan yang kita kenal dengan aksi 212 besok. Maka tidaklah berlebihan kalau mereka inilah Sang Pembela NKRI sejati yang memahami Hakikat NKRI.
Bayangkan, apa yang akan terjadi jika tuntutan penahanan tersangka Ahok dalam perkara penistaan agama ini jika tidak dipenuhi maka bisa jadi itu akan berbahaya kelangsungan NKRI dan Inilah hakikat NKRI!
Aksi 411 dan 212 justru dilakukan untuk mempertahankan NKRI. Bukan malah dipandang sebaliknya. Karena Sang Penista Agama itulah pada hakikatnya perusak tatanan NKRI .

Oleh karena itu perlu dibedakan mana yang memperjuangan Hakikat NKRI dan mana yang menjadikannya sebagai Politik Tandingan dan Politik NKRI.

Hakikat NKRI itu adalah mereka yang sadar tanpa dibayar untuk mempertahankan Republik ini dari segala ancaman dari luar maupun dari dalam. Sedangkan Politik NKRI adalah mereka yang mengatasnamakan NKRI untuk menandingi Aksi 411 dan 212 juga sebagai bentuk kekhawatiran mereka (prasangka buruk) terhadap aksi 411 dan 212 yang dinilai menyulut rusaknya tatanan NKRI.

PADAHAL.......
Tersangka Ahok adalah sumber yang dapat menyulut api rusaknya tatanan NKRI.
NKRI itu memang harga MATI
Tetapi bagaimana NKRI bisa utuh dan kuat jika penguasa dan hukum berpihak kepada perusak tatanan NKRI itu sendiri.
Ulama dan Habib Cinta NKRI !
POLRI DAN TNI Cinta NKRI !
AKSI 411 dan 212 juga cinta NKRI !
ANDA DAN SAYA CINTA NKRI !
Tegakkan Hukum di negeri ini jika benar-benar engkau mencintai NKRI..!
BUKTIKAN BAHWA AHOK SANG PENISTA AGAMA DIHUKUM ATAS KESALAHANNYA YANG FATAL ITU DEMI NKRI !!!!!

Penulis adalah Pemerhati Budaya Nusantara dan Alumnus FISIP UNSRI

Komentar Berita