Minggu, 05 Nov 2017 - 11:18:00 WIB - Viewer : 1098

Palembang & Emas, Cerita Sejarah Peradaban Kota Kita

Oleh : Arafah Pramasto,S.Pd* & Rifkhi Firnando,S.Pd.**

ilustrasi

AMPERA.CO - “Palembang EMAS” adalah sebuah sebuah  slogan yang kini diusung oleh pemerintah kota Palembang. Kata “Emas” yang dimaksud merupakan singkatan dari (E)lok, (M)adani,  (A)man, dan (S)ejahtera. Kata ʻElokʻ memiliki padanan kata ʻmolekʻ atau ʻindahʻ yang dalam bahasa Sansekerta disebut Anglep. Sedangkan kata ʻMadaniʻ berasal dari bahasa Arab Maddaniyah memiliki arti ʻPeradabanʻ yang berakar pada sebuah fakta sejarah Kota Madinah – sebelumnya bernama Yatsrib – sebagai tempat ditandatanganinya sebuah konstitusi tertua yang disebut Piagam Madinah. Intisari yang terdapat dari kata Madani itu adalah pengakuan atas eksistensi pemeluk agama-agama selain Islam seperti Yahudi, Kristiani (dalam Amandemen I), serta Majusi (dalam Amandemen II) dalam Piagam Madinah. Maka esensi dari Elok dan Madani tak jauh beda dengan ʻmanunggalʻ-nya masyarakat dalam keragaman sehingga tercipta rasa ʻAmanʻ serta berkemampuan untuk hidup ʻSejahtera.ʻ

Namun, di balik singkatan EMAS itu, sesungguhnya kota Palembang telah lama memiliki keterkaitan dengan komoditas emas dalam arti yang sebenarnya. Uniknya, emas telah menjadi  adjektiva yang prominen dari waktu ke waktu untuk kota Palembang. Bahkan ada kepercayaan bahwa nama ʻPalembangʻ itu berasal dari kata melembang yang artinya adalah kegiatan mendulang emas di sungai. Meskipun masyarakat secara umum dapat dengan mudah mengartikan kata ʻSwarnadwipaʻ yang berarti ʻPulau Emasʻ sebagai nama kuno untuk Pulau Sumatera secara umum, namun masih sedikit sekali di antaranya yang mengerti akarnya secara historis. Demikianlah hal ini sangat baik untuk dapat dikaji.

Kerajaan Sriwijaya yang didirikan sekitar abad ke-7 M merupakan sebuah kesatuan politik bersifat maritim. Kuasa hegemoninya yang turut mencakup wilayah Melayu Semenanjung menunjukkan kemampuan militer unggul, hingga kerajaan ini pun sempat berhadapan dengan kekuatan politik yang kuat di Jawa yakni Kerajaan Medang seperti yang terungkap dari Prasasti Anjuk Ladang bertarikh 937 M ; perseteruan ini disebabkan persaingan menguasai jalur perdagangan di Asia Tenggara. Lebih luas dari lingkup Nusantara maupun Asia Tenggara, Kerajaan Sriwijaya turut menjalin hubungan dengan Kekhalifahan Islam di Timur Tengah yakni Bani Umayyah. Surat pertama yang dikirimkan oleh Sriwijaya kepada Khalifah Muawiyah (661-680 M) terdapat dalam sebuah diwan (arsip) kerajaan oleh Abd Al-Malik Ibn Umayr. Isi dari pembukaannya berbunyi, “Dari Raja Al-Hind yang kandang binatangnya berisikan seribu gajah, (dan) istananya terbuat dari emas dan perak.....” Sriwijaya kemudian dikenal sebagai Sribuza atau Zabag dalam sumber Arab.

Tradisi surat-menyurat dalam dunia kerajaan memang kerap ditemukan penggunaan bahasa yang hiperbola (dibesar-besarkan). Tujuan dari pemakaian bahasa seperti itu tidak lain adalah untuk menimbulkan rasa kagum dari negara sahabat atas apa yang dimiliki oleh kerajaan itu sendiri. Sederhananya, belum tentu Khalifah Muawiyah akan memeriksa langsung keadaan di Sriwijaya mengenai “Istananya (Raja Sriwijaya) yang Terbuat dari Emas.” Sriwijaya yang kaya akan emas akhirnya dicatatkan oleh seorang pedagang Arab bernama Sulaiman sekitar tahun 851 M. Sulaiman mencatatkan “....Maharaja Zabag yang istananya menghadap talag (kata talag mengacu kepada “Muara Sungai” sebagaimana yang ada di Tigris, sungai yang mengalir antara Baghdad dan Bashrah di Irak), talag itu memiliki sebuah danau kecil sebagai tempat dimana para pelayan raja akan melemparkan batangan-batangan emas setiap paginya. Pada saat air pasang, air danau akan menutupi batangan emas yang ada di talag, sedangkan saat sungai surut, batangan emas itu akan muncul dan berkilauan oleh sinar matahari. Saat raja mangkat, batangan emas itu akan dihitung dan dilebur, untuk kemudian dibagikan kepada para keluarga kerajaan laki-laki dan perempuan, kepada para pejabat sesuai pangkatnya, sisanya akan dibagikan kepada orang-orang miskin dan yang kurang beruntung.” Anthony Reid dalam bukunya yang berjudul Witnesses to Sumatra, A Travellersʻ Anthology menjelaskan bahwa emas yang dimaksud oleh Sulaiman itu berasal dari pegunungan Bukit Barisan.

Walau catatan Sulayman dapat menimbulkan sikap skeptis karena kesan yang “hiperbola” dalam menceritakan kekayaan emas Kerajaan Sriwijaya, namun hal tersebut bukan berarti tidak memiliki sintesa dengan kajian kesejarahan modern. Kenedi Nurhan dalam laporan jurnalistik berbentuk buku dengan judul Jelajah Musi : Eksotika Sungai di Ujung Senja mencatatkan pendapat dari arkeolog Sumatera Selatan yang telah cukup kesohor akan perannya dalam bidang ini yakni Retno Purwanti. Retno menerangkan bahwa melalui identifikasi yang ia lakukan atas benda-benda peninggalan Sriwijaya seperti botol merkuri, uang timah, uang tembaga, arca, dan perhiasan emas-perak ; semuanya menunjukkan kemajuan perdagangan Sriwijaya sebagai penghasil emas. “Emas tersebut mungkin saja diperdagangkan secara lintas wilayah. Beberapa mungkin tenggelam di dasar Sungai Musi karena (kapal) karam atau ada alasan lain”, ujar Retno.Maka, kisah Sulaiman sedikit banyak dapat dibuktikan kebenarannya karena ia mencatatkan hubungan seputar emas dan peradaban sungai di Sribuza (Sriwijaya).

Selepas dari masa Kerajaan Sriwijaya, berangsur-angsur Palembang jatuh ke tangan penguasa-penguasa lainnya seperti Colamandala (India), Singasari, Majapahit, hingga akhirnya di bawah kekuasaan Demak. Palembang berada di posisi strategis perdagangan internasional. Jelasnya keberadaan Palembang yang sebagai sebuah kota dengan transportasi sungainya dan terletak dekat dengan pantai timur Sumatera dapat mempermudah menuju perdagangan laut yang utamanya ialah ke Malaka. Pada sekitar abad ke-16 jaringan perdagangan secara unik menempatkan Malaka dapat berhubungan dengan pulau-pulau di Nusantara. Tome Pires seperti dikutip oleh Ricklefs dalam buku Sejarah Indonesia Modern mencatatkan trayek-trayek utama dalam perdagangan dari dan ke Malaka salah satunya adalah Malaka-Pantai Timur Sumatera ialah dengan hasil utamanya merupakan emas. Saat Sultan Agung dari Kesultanan Mataram Islam berkuasa dan meminta ketundukan Palembang pada otoritas Jawa, dalam Ensiklopedia Raja-Raja Tanah Jawa karangan Ki Sabdacarakatama, konon Mataram mewajibkan upeti emas selain juga persembahan berupa gajah dari Palembang setiap tahunnya. Syarat yang dibebankan kepada Palembang itu memperkuat surat yang dikirimkan pada Khalifah Umayyah sekitar 10 abad sebelumnya bahwa wilayah ini memiliki sumber daya emas yang banyak termasuk satwa seperti gajah yang saat itu lumrah dipakai sebagai tunggangan kehormatan raja maupun untuk perang.

Kesultanan Palembang yang didirikan sejak 1659 akhirnya dihapuskan oleh pemerintah Hindia Belanda sejak 1823 menyusul kekalahan Sultan Mahmud Badaruddin II dalam pertempuran melawan Belanda dua tahun sebelumnya. Keputusan Belanda untuk menghilangkan Kesultanan Palembang tidak hanya memiliki arti berdirinya kuasa kolonialis-imperialis Belanda namun juga menjadi kesempatan besar untuk dapat mengeksploitasi kekayaan alam maupun manusia di Sumatera Selatan. Palembang selanjutnya merupakan salah satu wilayah kekuasaan Hindia Belanda yang pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 semakin terasa nilai strategisnya. Sumber-sumber daya baru di Palembang pun bermunculan seperti hasil pertanian karet dan kopi. Selain itu pertambangan seperti minyak bumi dan batu bara mulai dikenal luas dan terbuka lebar untuk digarap. Memasuki dasawarsa kedua abad ke-20 menjadi salah satu kawasan wingewesten (daerah untung), sebutan untuk daerah-daerah yang diekspoitasi secara ekonomi di Hindia Belanda. Bagi kaum Bumiputra setempat, para pedagang, perantau, kaum profesional, dan pencari kerja, Palembang disebut “Oedjan Mas”(“Hujan Emas”). Dampak dari Hujan Emas ini salah satunya ialah masyarakat pedalaman dapat menikmatinya dengan mampu mampu membeli oto atau mobil. Pada tahun 1920, jumlah oto pribadi belum mencapai 300 buah dan itupun dimiliki oleh beberapa perusahaan ataupun pejabat. Namun pada 1927 jumlahnya sudah mencapai 3.750 oto dengan berbagai tipe dan ukuran serta tersebar hingga ke pedalaman. “Emas” di masa kolonial tidak hanya berupa logam mulia, namun merujuk kepada bermacam kekayaan alam yang dapat memberi untung.

Emas adalah sebuah komoditas yang tinggi harganya dan cenderung dipilih oleh orang-orang untuk berinvestasi. Beberapa tahun silam seorang Professor asal Spanyol bernama Umar Ibrahim Vadillo menggagaskan dikembalikannya fungsi emas dinar sebagai mata uang dunia karena menurutnya uang kertas yang dicetak terus menerus akan terus menurun nilainya sebagaimana sebuah produk yang harganya akan turun bila diproduksi massal. Di luar konteks kebendaan, emas bisa juga menjadi sebuah kata sifat yang menunjukkan kegemilangan contohnya ialah istilah “Zaman Keemasan” ataupun untuk menandai sesuatu yang benilai lebih seperti istilah “Anak Emas”. Dari berbagai kisah lintas zaman Palembang yang dituliskan sebelumnya, kita menyadari bahwa Sumatera Selatan yang kaya akan emas itu secara silih berganti di kuasai oleh pihak-pihak lain. Oedjan Mas di masa kolonial pun sebenarnya tidak seberapa menguntungkan pribumi setempat jika dibandingan dengan apa yang telah dikeruk oleh Hindia Belanda. “Emas” Palembang saat ini adalah manusianya yang kian hari mendapat tantangan dalam kopleksitas kehidupan bermasyarakat hingga berbangsa seperti ancaman intoleransi, degradasi moral, maupun lemahnya ekonomi. Dengan semangat Palembang EMAS yang ingin dicapai 2018 nanti, hendaknya segenap komponen masyarakat termasuk pemerintah dapat memajukan pembangunan manusia dari segi karakter maupun intelektual tidak sebatas pada pembangunan fisik saja, agar keemasansepenuhnya menjadi milik seluruh warga Palembang.

 

* Penulis Lepas & History Blogger

 

** Operator DAPODIK SDN 10 Sumber Marga Telang (Banyuasin)

Sumber :

Nurhan, Kennedi (Ed.), Jelajah Musi : Eksotika Sungai di Ujung Senja, Jakarta : Penerbit Buku Kompas, 2010.

Reid, Anthony, Sumatera Tempo Doeloe, Depok : Komunitas Bambu, 2014.

Ricklefs, M.C., Sejarah Indonesia Modern, Yogyakarta : Gadjah Mada University Press, 2011.

Sabdacarakatama, Ki, Ensiklopedia Raja-Raja Tanah Jawa, Yogyakarta : Narasi, 2010.

Komentar Berita