Kamis, 09 Apr 2015 - 16:50:17 WIB - Viewer : 14944

Pasar Gedung 16 Ilir, Tangkis dan Banting Harga

Kios-kios yang menjual berbagai macam produk tekstil yang terdapat di dalam Pasar Gedung 16 Ilir, Palembang (9/4)

AMPERA. CO, PALEMBANG – Asli dan banderol. Dua kata ini tidak dijual di Pasar Gedung 16 Ilir. Barang bagus toh tak selalu harus dilepas dengan harga mati. Disini, seni menawar adalah segalanya. Meski pasar modern dan butik ternama muncul berbalapan, pasar yang satu ini tidak pernah tenggelam.

Coba tengok di akhir pekan, pasar yang terletak di Jalan Tengkuruk kawasan 16 Ilir akan sesak dipenuhi manusia. Pasar ini menawarkan berbagai macam produk tekstil, pakaian pria, wanita, anak hingga bayi, serta produk lain, seperti seprai, mukena, sarung bantal, dan gorden. Sebagian orang memborongnya untuk dijual lagi dan sebagian lainnya untuk dipakai sendiri. Keduanya, jika merupakan pembeli pemula, perlu jurus yang sama.

“Jangan kaget dengan nominal yang disebutkan pedagang. Itu hanya gertak sambal. Mengukur apakah anda pembeli andal atau amatiran,” kata Sri Mayang Sari, pembeli langganan pasar ini. Ia lantas membeberkan jurus-jurus menawar barang. Anggaplah angka selangit dari pedagang adalah tohokan ke ulu hati, maka jurus pertama si pembeli adalah tangkisan. Jangan menunjukkan gelagat jantung copot. “Silahkan debat dengan pedagang, misalnya, katakan harga segitu tak sesuai dengan barang begini.”

Menurut Sri, demikianlah asyiknya seni tawar-menawar. Pengunjung Pasar Gedung 16 Ilir tak usah sungkan, ragu-ragu, atau bahkan takut banting harga. Sebab, tak ada rupiah murah dari lidah manis mereka. “Yang ada harga sudah dilipatgandakan dari nominal yang disebutkan,” ujarnya. Biasanya tangkisan yang lihai akan membuat pedagang mundur selangkah, dan berkata, “Memang mau ambil berapa?” Tentu, bagi yang akan membeli banyak, mudah menjawabnya. Tapi, bagi yang tak punya niat memborong, tak usah berkecil hati. Cukup katakanlah, “Satu dulu. Kalau memang bagus, saya kesini lagi dan jadi pelanggan.”

Selanjutnya, potonglah separuh harga. Ya.. lima puluh persen dari angka yang dipatok. “Tidak perlu khawatir. Dibeli dengan harga dibawah itu saja pedagang tidak rugi. Disini siapa yang pandai menawar dia juaranya,” kata Sri. Ia menambahkan, pembeli tak perlu kaget melihat pedagang tampak cemberut atau bahkan marah karena penawaran sengit. Tampang sedingin mungkin adalah modal utama bagi pembeli di pasar ini.

“ Karena itu pula, jangan pasang tampang butuh. Kalem saja. Kalau harga susah turun, berpura-puralah batal membeli dan tinggalkan kios itu. Tapi, berjalanlah pelan. Jangan tergesa pergi. Akting saja,” Sri memaparkan sejumlah jurus. Gerakan lamban itu akan member ruang dan waktu berpikir bagi pedagang untuk melepas jualannya. Biasanya, menurut Sri, pedagang tersebut akan memanggil kembali pembeli itu dan berujar “Ya sudah. Tapi harga ini Cuma untuk anda. Jangan bilang siapa-siapa.” Dan ikhtiar  ini berlangsung saban hari di Pasar Gedung 16 Ilir. (AM2)