Jumat, 04 Okt 2024 - 17:19:00 WIB - Viewer : 11568

Peran Guru Interdisipliner dalam Pendidikan Sains Untuk Mengoptimalkan Potensi Guru Fisika dan Kimia

// Dalam Pemahaman Konsep Biologi pada Siswa SMP

Oleh: Safira Permata Dewi, S.Pd., M.Pd., Dra. Lucia Maria Santoso, M.Si., Drs. Kodri Madang, M.Si., Ph.D., Dr. Masagus Mhd. Tibrani, S.Pd., M.Si., Anisyah Rahmawati, Endah Suryaningtyas, M. Atilla, Aulia Medi Sagita, Nayla Agustin, Fadilla Azzahra Putri, Dwi Wahdini, Melya Salsabila

Pada tanggal 31 Agustus 2024, Tim Pengabdian Masyarakat Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Unsri berkesempatan untuk mengikuti sebuah pelatihan yang berfokus pada pembuatan awetan tumbuhan, yang diselenggarakan di Kota Palembang. Pelatihan ini merupakan hasil kerjasama antara Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Unsri dengan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) IPA SMP di Kota Palembang yang dihadiri oleh 29 orang guru IPA dari berbagai sekolah di kota tersebut. Selama pelatihan, para peserta diperkenalkan pada teknik-teknik pengawetan tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran di kelas.

Namun, dari diskusi dan interaksi yang terjadi sepanjang kegiatan, telah disadari terjadi beberapa permasalahan yang mendasar, yaitu: banyak guru yang merasa terbatas dalam mengajarkan berbagai disiplin ilmu sains secara terpadu. Guru-guru fisika dan kimia, misalnya, mengungkapkan kesulitan mereka dalam menyampaikan materi biologi dengan cara yang relevan dan menarik bagi siswa.

Minimnya ketersediaan media pembelajaran yang kontekstual juga menjadi hambatan, memperkuat perlunya kolaborasi lintas disiplin ilmu. Pengalaman dari pelatihan ini menjadi refleksi bagi Tim Pengabdian Masyarakat Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Unsri tentang pentingnya pendekatan interdisipliner dalam pendidikan sains di tingkat SMP, serta kebutuhan akan pelatihan yang lebih komprehensif bagi para guru untuk mendukung pembelajaran yang lebih holistik dan terintegrasi.

Menarik sekali melihat bagaimana dalam pembelajaran IPA di sekolah, para guru diharapkan memiliki keterampilan yang seragam, terlepas dari disiplin ilmu asal mereka. Ironisnya, kenyataan di lapangan justru memperlihatkan ketimpangan yang cukup mencolok. Guru-guru biologi, dengan kemahirannya, tampak lebih nyaman dan terampil dalam membuat media praktikum seperti preparat tumbuhan. Sementara itu, guru-guru fisika dan kimia, yang notabene juga dianggap "ahli" dalam bidang sains, harus berjibaku dengan kesulitan yang tampak sederhana bagi rekan-rekan mereka di bidang biologi. Padahal, tuntutan kompetensi IPA tidak memandang asal-usul bidang studi—semua guru seharusnya mampu menguasai keterampilan yang sama. Namun, alih-alih saling melengkapi, kesenjangan keterampilan ini malah mempertegas batasan antar disiplin ilmu, seakan-akan fisika dan kimia adalah dunia yang terpisah dari biologi, meskipun mereka berada dalam payung yang sama: IPA. Bukankah ini ironis? Di satu sisi, ada harapan besar agar para guru menyajikan pembelajaran yang menyeluruh, tetapi di sisi lain, pelatihan dan dukungan yang tersedia lebih sering menguntungkan satu kelompok di atas yang lain. 

Pada konteks pendidikan sains di tingkat SMP, pentingnya peran guru interdisipliner sangatlah jelas. Saat ini, banyak guru fisika dan kimia yang memiliki keterbatasan dalam menyampaikan materi biologi, sehingga pembelajaran di kelas menjadi kurang optimal. Keterbatasan ini diperparah dengan rendahnya kolaborasi antar guru dari berbagai disiplin ilmu, yang berakibat pada penyajian materi yang tidak terpadu. Selain itu, ketersediaan media pembelajaran yang minim menghambat guru dalam menggunakan pendekatan kontekstual yang menarik bagi siswa. Oleh karena itu, diharapkan terciptanya kondisi ideal di mana kurikulum mendukung pendekatan interdisipliner dengan pelatihan yang memadai bagi guru, sehingga mereka dapat mengajarkan materi biologi dengan baik sekaligus mengaitkannya dengan fisika dan kimia. Dengan penyediaan sarana dan prasarana yang memadai serta budaya kolaborasi yang kuat antar guru, proses pembelajaran sains dapat menjadi lebih menarik dan relevan, mendorong siswa untuk memahami keterkaitan antar disiplin ilmu serta meningkatkan motivasi belajar mereka secara keseluruhan.

Pelatihan pembuatan awetan tumbuhan yang telah dilakukan ditemukan banyak hal positif yang dapat diambil. Salah satunya adalah bahwa guru-guru IPA dengan latar belakang fisika dan kimia ternyata mampu menguasai keterampilan membuat media awetan tumbuhan, yang sebelumnya lebih dikenal sebagai keahlian guru-guru biologi. Hal ini menunjukkan bahwa keterampilan lintas disiplin dapat dipelajari dengan baik melalui pelatihan yang tepat. Selain itu, antusiasme para guru meningkat seiring dengan keterlibatan mereka dalam proses kreatif tersebut. Mereka tidak hanya bersemangat dalam membuat awetan tumbuhan, tetapi juga termotivasi untuk mengaplikasikan keterampilan ini di sekolah masing-masing, menciptakan media pembelajaran yang lebih menarik dan interaktif bagi siswa.

Namun, di balik capaian positif ini, Tim Pengabdian Masyarakat Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Unsri juga menemukan beberapa tantangan yang perlu mendapat perhatian. Salah satunya adalah keterbatasan sarana dan prasarana di sekolah, yang kerap menjadi kendala dalam mendukung pelaksanaan praktikum dengan media awetan tumbuhan. Selain itu, waktu yang diperlukan untuk menyiapkan media ini juga cukup lama, sementara alokasi waktu yang tersedia dalam jadwal pembelajaran sangat terbatas. Sebagian besar waktu yang ada hanya cukup untuk melaksanakan proses pembelajaran rutin, tanpa banyak kesempatan untuk mempersiapkan media tambahan seperti awetan tumbuhan. Ini menjadi salah satu aspek yang perlu diperbaiki, agar potensi penggunaan media ini dapat dioptimalkan tanpa mengorbankan waktu pembelajaran.

Implikasi dari kegiatan yang telah dilaksanakan ini membuahkan beberapa saran dan rekomendasi yang mungkin dapat menjadi pertimbangan para Kepala Sekolah SMP, Kepala Laboratorium, dan guru IPA. Pertama, Kepala sekolah berperan penting dalam mendukung kelancaran pelaksanaan keterampilan pembuatan media awetan tumbuhan oleh guru IPA. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah memperkuat fasilitas laboratorium dengan melengkapi sarana dan prasarana yang diperlukan. Ketersediaan peralatan dan bahan pengawet yang memadai akan memudahkan guru dalam menerapkan media pembelajaran yang kreatif dan efektif.

Kedua, penting bagi kepala sekolah untuk menyediakan waktu khusus bagi guru untuk menyiapkan media pembelajaran tanpa harus terbebani oleh keterbatasan waktu. Jadwal tambahan di luar jam mengajar, seperti di akhir semester atau hari khusus, dapat menjadi solusi agar persiapan media awetan dapat berjalan optimal tanpa mengganggu proses pembelajaran reguler.

Ketiga, untuk memaksimalkan kolaborasi antar guru, kepala sekolah juga perlu mendorong terjadinya kerja sama lintas disiplin ilmu di kalangan guru IPA. Pertemuan rutin untuk bertukar pengalaman dan keterampilan dapat membantu guru-guru fisika dan kimia mengatasi kesulitan dalam membuat media awetan, sekaligus memperkaya metode pembelajaran di kelas secara keseluruhan.

Keempat, Kepala laboratorium memegang peranan kunci dalam memastikan laboratorium IPA berfungsi sebagai pusat pengembangan keterampilan bagi guru dan siswa. Optimalisasi penggunaan laboratorium sangat diperlukan dengan memastikan alat-alat praktikum selalu siap digunakan dan melakukan pemeliharaan secara berkala. Ketersediaan peralatan yang memadai akan mendukung pelaksanaan praktikum pembuatan media awetan tumbuhan secara lancar.

Kelima, untuk memperkuat keterampilan yang telah diperoleh, kepala laboratorium dapat menyelenggarakan pelatihan internal bagi guru-guru IPA, terutama yang berlatar belakang fisika dan kimia. Bimbingan praktis ini akan memfasilitasi guru untuk lebih percaya diri dalam mengaplikasikan keterampilan membuat media awetan tumbuhan dan memperkaya metode pembelajaran mereka.

Keenam, pengelolaan waktu praktikum harus menjadi perhatian utama. Kepala laboratorium dapat mengatur waktu pelaksanaan pembuatan media awetan di luar jam praktik siswa, sehingga persiapan media tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar. Dengan demikian, guru dapat mempersiapkan media dengan lebih baik tanpa terbebani oleh keterbatasan waktu yang ada.

Ketujuh, Guru fisika dan kimia diharapkan dapat berkolaborasi secara aktif dengan guru biologi untuk mengatasi kesulitan dalam pembuatan media awetan tumbuhan. Kerja sama ini akan memperdalam keterampilan yang telah dipelajari dalam pelatihan, sekaligus memperkaya pengalaman mereka dalam menggunakan media pembelajaran yang berbasis biologi. Guru-guru biologi yang lebih berpengalaman dapat menjadi sumber belajar yang berharga bagi rekan-rekan sejawatnya.

Kedelapan, manajemen waktu yang baik sangat diperlukan agar guru tidak terbebani oleh persiapan yang memakan waktu. Guru dapat memanfaatkan waktu di luar jam mengajar untuk mempersiapkan media awetan tumbuhan dalam jumlah besar, sehingga dapat digunakan untuk beberapa kali pembelajaran. Hal ini akan membantu mereka menghemat waktu dan tetap fokus pada pembelajaran di kelas.

Kesembilan, guru dapat berinovasi dengan membuat media pembelajaran yang sederhana namun tetap efektif. Jika sarana dan prasarana terbatas, guru dapat mencoba teknik yang lebih mudah atau memilih tumbuhan yang lebih sederhana untuk diawetkan. Dengan pendekatan ini, guru tetap dapat menyediakan media pembelajaran yang menarik tanpa harus terkendala oleh keterbatasan sarana dan waktu yang tersedia.

Pada kegiatan ini pula, beberapa pertimbangan praktis kami sarankan kepada MGMP IPA SMP Kota Palembang bahwa MGMP IPA SMP merupakan wadah penting bagi guru-guru IPA untuk saling berbagi ilmu dan pengalaman. Oleh karena itu, penerapan keterampilan pembuatan media awetan tumbuhan, guru-guru dapat memanfaatkan MGMP sebagai forum diskusi untuk memperdalam keterampilan yang telah didapatkan selama pelatihan. Kolaborasi antar guru fisika, kimia, dan biologi dapat menghasilkan gagasan baru untuk menciptakan media pembelajaran yang kreatif dan inovatif, memperkaya pengalaman belajar siswa.

Selain sebagai forum diskusi, MGMP juga dapat menjadi platform untuk menyelenggarakan pelatihan-pelatihan tambahan bagi guru-guru yang belum sempat mengikuti pelatihan sebelumnya. Guru-guru biologi dapat berbagi teknik dan trik dalam pembuatan awetan tumbuhan, sementara guru fisika dan kimia dapat memberikan perspektif baru dalam integrasi media tersebut dengan materi ajar di bidang mereka. Dengan begitu, seluruh guru IPA dapat saling melengkapi keterampilan satu sama lain.

Di samping itu, MGMP dapat menjadi tempat untuk merancang proyek bersama, seperti pengembangan media awetan tumbuhan yang dapat digunakan secara kolektif oleh sekolah-sekolah anggota. Proyek ini tidak hanya memperkuat keterampilan individu, tetapi juga memupuk semangat kerja sama antar sekolah dan memberikan solusi praktis dalam mengatasi keterbatasan waktu dan sarana yang ada di masing-masing sekolah.

Sinergi yang saling melengkapi antara semua elemen pendidikan tidak hanya pada tingkat pendidikan yang sama melainkan sinergi antar tingkatan pendidikan tinggi dan menengah tentunya menjadi salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk memaksimalkan pontensi keterampilan yang dimiliki oleh guru dalam rangka mencerdaskan manusia Indonesia untuk Indonesia Emas.