Kamis, 16 Jul 2020 - 23:15:00 WIB - Viewer : 808

Rizal Ramli: Indonesia Sudah Masuk Dalam Jurang Resesi Ekonomi

Redaksi AMPERA.CO

AMPERA.CO, Jakarta - Ekonom senior, Rizal Ramli, menyebut Indonesia dipastikan telah masuk dalam jurang resesi ekonomi. Indikatornya, data-data penunjang sudah menunjukkan penurunan yang sangat tajam, meski Badan Pusat Statistik (BPS) belum melansir data pertumbuhan ekonomi di kuartal III-2020. 

"Ini kita sudah resesi, daya beli nggak ada, pengangguran naik, krisis kesehatan, ya resesi lah. Resesi itu definisinya pertumbuhannya negatif. Kuartal ini negatif, kuartal depan juga bakal negatif," ujar ekonom senior, Rizal Ramli, dalam diskusi "Ngopi Bareng RR" yang digelar secara virtual, Kamis (16/7/2020).

Pemerintah sendiri kemarin merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi di kuartal II-2020 dari yang tadinya -3,8% menjadi lebih dalam yakni -4,3%.

Meski begitu, menurut Rizal bukan perkara sulit untuk mengeluarkan ekonomi Indonesia dari jurang resesi. Namun, mantan AnggotaTim Panel Ekonomi PBB itu tidak yakin formasi kabinet saat ini bisa melakukannya.

"Apakah kita bisa keluar dari krisis ini? Bisa. Wong waktu saya masuk dulu bisa -3%, nggak susah-susah amat. Tapi ada nggak kabinet sekarang yang punya track record membalikan situasi, dari ekonomi biasa, digenjot jadi tinggi atau dari negatif jadi positif? Mohon maaf, nggak ada," tegasnya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengaku khawatir kondisi perekonomian dunia yang belakangan ini melemah akibat pandemi Corona. Belakangan ini, Singapura sudah terdampak parah. Ekonomi negeri Singa pun harus masuk jurang resesi.

Usai memasang lampu kuning alias waspada, dirinya mengaku akan menjaga kontributor terbesar bagi pertumbuhan ekonomi nasional, yaitu tingkat konsumsi rumah tangga, ekspor, dan investasi.

Dia menceritakan, resesi di Negeri Singa itu dikarenakan ekonominya sangat bergantung pada perdagangan internasional. Di saat COVID-19 melanda banyak negara, maka perdagangan pun ikut terhenti sehingga hal itu berdampak besar bagi perekonomiannya.

"Domestic demand-nya tidak bisa mensubstitusi. Oleh karena itu penurunan dari Singapura sangat besar, karena memang tidak terjadi perdagangan internasional yang selama ini menjadi engine of growth-nya," tukas Sri Mulyani di gedung DPR, Jakarta, Rabu (15/7/2020).

 

Komentar Berita