Kamis, 23 Apr 2015 - 00:15:25 WIB - Viewer : 16084
Suasana Makan Romantis di Warung Terapung ditepian Sungai Musi.
AMPERA.CO, Palembang - Venice of the East pernah disematkan penjajah Belanda pada ibukota Sumatera Selatan ini, dikarenakan Palembang merupakan kota air layaknya Venezia di Italia. Memiliki sungai Musi yang eksotis dengan kehidupan tepian sungai dan jembatan Ampera yang masih tegak anggun menghubungkan bagian hulu dan hilir. Di pelosok kota pun masih tersisa petak-petak rawa dengan hamparan bunga teratai nan memikat, tersembunyi dibalik kemegahan gedung-gedung kota. Tetapi di era sekarang, keindahan tersebut mulai tergerus. Kehidupan tepian sungai sudah banyak tak dikenal oleh generasi muda sekarang.
Ketika matahari mulai tenggelam di barat, langit beranjak gelap. Sinar kuning yang hangat dari lampu-lampu penjaja makanan segera mengantikan mentari. Warna-warni hiasan yang nampak menyala dan mencolok menambah suasana kian meriah.
Selepas Magrib, pengunjung yang datang ke BKB (Benteng Kuto Besak) ini semakin padat. Kursi-kursi kecil milik penjual mie tektek sudah tersebar. Penjaja mainan dan makanan mulai saling bersahutan menjajakan dagangannya di arena terbuka.
Pengunjung tampak sibuk memilih lokasi yang menurut penilaian mereka strategis, yaitu selain mudah dijangkau, mereka juga menikmati keindahan Jembatan Ampera sembari duduk dan menyantap makanan.
Merry (42) sibuk menyambut para pengunjung yang datang ke warung. Ia mempersilahkan mereka duduk dan bertanya mau pesan apa. Ada tekwan, ada model, pempek, martabak, kopi, teh sahutnya dengan mimik wajah yang ramah.
Ia adalah salah satu pemilik warung terampung yang hari itu berjualan di pinggaran sungai Musi. “Sudah 6 tahun berjualan di atas kapal ini, tuturnya, ibu dari tiga orang anak
“Dulu menggunakan kapal yang lebih kecil, Syukurlah Alhamdulillah sekarang dapat kapal yang lebih besar bantuan dari BNI secara gratis,” tambahnya.

Warung Terampung Mery mulai buka dari jam 16.00 s/d 21.00 Wib. Sembari menyantap jajanan lokal khas Palembang, pengunjung dapat melihat keindahan jembatan Ampera dari view yang lebih bagus dan merasakan riak air diatas kapal.
Soal harga, Merry menetapkan harga pasar 16. Model dan tekwan dikenakan harga Rp.5.000/porsi sedangkan jenis minuman rata-rata dipatok Rp. 4.000/gelas. Untuk jajan seperti pempek dan kue-kue kecil dihargai Rp. 1.000/buah
“Makanan disini enak, harganya murah dan terjangkau, Ditambah lagi suasananya mewakili identitas Palembang yang sebenarnya,” aku Pian salah satu pengunjung. Hal senada juga dikatakan pasutri asal Lampung Paat dan Umi yang baru pertama kali makan ditempat ini.

Omset penghasilan warung terampung ini dalam semalam bisa sampai Rp.300.000 dan pada waktu weekend sampai menebus 500 ribu.
Warung Terampung milik Merry memang tidak mengambarkan seutuhnya Palembang tempo dulu, era tahun 1940-1950 yang masih banyak pasar terampung. Tapi suasana yang ditawarkan cukup memberikan kenangan dan merasakan sedikit suasana Palembang sebenarnya.



