Jumat, 10 Okt 2025 - 10:25:00 WIB - Viewer : 2176

Tim Universitas Sriwijaya Dampingi SMAN 10 Palembang Kembangkan e-modul Interaktif

// Menggunakan Augmented Reality Sebagai Inovasi Pembelajaran

Redaksi AMPERA.CO

IST
tim dosen dari Universitas Sriwijaya (UNSRI) bersama mahasiswa S-2 Unsri Dampingi SMAN 10 Palembang

AMPERA.CO, Palembang – Dalam rangka pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, tim dosen dari Universitas Sriwijaya (UNSRI) melaksanakan kegiatan Pendampingan Guru di SMAN 10 Palembang. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi dan kreativitas guru dalam mengembangkan media pembelajaran berbasis teknologi di era Revolusi Industri 5.0. Tim pengabdian ini melibatkan dosen dari berbagai program studi, yakni Prof. Dr. Ida Sriyanti, S.Pd., M.Si. dan Dr. Leni Marlina, S.Pd., M.Si. dari Magister Pendidikan Fisika; M. Rudi Sanjaya, S.Kom., M.Kom. dari Manajemen Informatika; serta Ir. Agung Mataram, S.T., M.T., Ph.D. dari Magister Teknik Mesin. Kegiatan ini juga dibantu oleh mahasiswa pascasarjana Rahma Dani, S.Pd., Selvia Mariska Syahputri, S.Pd., Gr. dan Yora Inda Lestari, M.Pd. yang mendukung pelaksanaan teknis di lapangan. Acara dilaksanakan di ruang multimedia SMAN 10 Palembang dan diawali dengan pembukaan resmi yang dihadiri oleh Ketua Tim Pengabdian Kepada Masyarakat Unsri, Prof. Dr. Ida Sriyanti, S.Pd., M.Si., serta Kepala Sekolah SMAN 10 Palembang, Rozali, S.Pd., M.Pd. Dalam sambutannya, Prof. Ida Sriyanti menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam pengabdian kepada masyarakat. Ia menjelaskan bahwa kegiatan pendampingan seperti ini bukan sekadar kewajiban akademik, tetapi juga sarana untuk mentransfer teknologi dan memperbarui wawasan pendidikan, sehingga guru-guru dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman. Menurutnya, kolaborasi antara universitas dan sekolah menengah penting untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang saling menguatkan. Sementara itu, Kepala SMAN 10 Palembang, Rozali, S.Pd., M.Pd., menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini. Ia menilai bahwa pendampingan tersebut sangat bermanfaat dalam memperluas wawasan guru dan memperkuat kesiapan mereka menghadapi tantangan pendidikan modern. Melalui kegiatan ini, guru diharapkan mampu mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran serta merancang media ajar yang lebih interaktif dan relevan bagi siswa.

Bagian inti kegiatan difokuskan pada penguatan kompetensi guru melalui kombinasi teori dan praktik langsung. Rangkaian kegiatan ini direncanakan berlangsung sebanyak enam kali pertemuan, dengan setiap sesi memiliki fokus tematik yang berbeda, mulai dari pengenalan konsep dasar hingga penerapan teknologi tingkat lanjut. Pelatihan dirancang secara bertahap agar peserta tidak hanya memahami konsep, tetapi juga menguasai keterampilan teknis dalam pembuatan bahan ajar digital. Tahapan pertama diawali dengan pemaparan konsep Revolusi Industri 5.0 dan Education 5.0. Narasumber menjelaskan bahwa era 5.0 menekankan kolaborasi harmonis antara manusia dan teknologi. Jika pada era 4.0 mesin menggantikan peran manusia, maka pada era 5.0 teknologi justru berfungsi untuk memperkuat nilai-nilai kemanusiaan, kreativitas, dan empati. Dalam konteks pendidikan, Education 5.0 menuntut guru agar mampu mengintegrasikan teknologi bukan sekadar sebagai alat bantu, tetapi sebagai sarana membangun karakter, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis siswa.Para narasumber juga menyinggung fenomena death of expertise atau “kehilangan kepakaran,” yaitu kondisi di mana otoritas ilmiah para ahli mulai diabaikan akibat banjir informasi digital. Guru dituntut untuk mempertahankan kredibilitasnya sebagai sumber pengetahuan yang terpercaya dengan memperkuat literasi digital, kemampuan berpikir kritis, serta keterampilan mengelola informasi. Setelah sesi teori, peserta mengikuti pre-test untuk mengukur pemahaman awal mereka mengenai pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran. Hasil tes digunakan sebagai dasar untuk menyesuaikan pendekatan pelatihan. Teridentifikasi bahwa tingkat penguasaan teknologi di kalangan guru bervariasi, sehingga pendampingan diberikan secara lebih personal sesuai kebutuhan masing-masing.  Tahap berikutnya berfokus pada pembuatan e-modul interaktif. Para dosen memperkenalkan konsep perencanaan isi, penentuan media, dan desain visual yang menarik. Guru dilatih untuk mengembangkan e-modul sesuai mata pelajaran masing-masing menggunakan aplikasi pengolah dokumen dan perangkat desain grafis. Mahasiswa pendamping turut membantu guru mengoperasikan perangkat lunak serta memastikan hasil akhir dapat diakses dengan mudah oleh siswa. Setelah menguasai e-modul, peserta dilatih menyusun buku ajar digital yang profesional. Dosen dari Program Studi Manajemen Informatika memberikan panduan mengenai tata letak, desain visual, serta prinsip penyuntingan konten. Guru belajar mengoptimalkan ilustrasi, warna, dan tipografi agar buku digital lebih menarik dan sesuai karakter siswa generasi digital.

Tahapan selanjutnya menjadi sesi yang paling menarik, yaitu pelatihan penggunaan teknologi Augmented Reality (AR). Peserta diperkenalkan pada konsep AR yang menggabungkan dunia nyata dengan elemen digital seperti gambar tiga dimensi, animasi, dan suara. Dalam praktiknya, guru-guru membuat simulasi sederhana berbasis AR, misalnya untuk menjelaskan konsep gaya dan gerak dalam pelajaran fisika melalui model 3D yang dapat diamati menggunakan kamera ponsel. Dosen dari Magister Teknik Mesin memberikan pendampingan teknis mengenai desain dan integrasi fitur interaktif, seperti animasi, narasi suara, dan tautan sumber belajar tambahan. Tahap ini menjadi sarana bagi guru untuk memahami potensi teknologi imersif dalam meningkatkan daya tarik pembelajaran. Kegiatan diakhiri dengan forum diskusi dan sesi refleksi. Guru-guru berbagi pengalaman selama mengikuti pelatihan, sementara para dosen memberikan umpan balik dan rekomendasi untuk implementasi di sekolah. Selanjutnya dilakukan post-test serta survei kepuasan peserta terhadap kegiatan pengabdian. Hasil refleksi menunjukkan antusiasme tinggi dari para guru yang berkomitmen untuk menerapkan hasil pelatihan di kelas masing-masing. Dalam sambutan penutupnya, Prof. Ida Sriyanti berharap agar kegiatan ini memberikan dampak berkelanjutan dan menjadi inspirasi bagi guru untuk terus berinovasi. Ia menegaskan bahwa guru abad ke-21 perlu bertransformasi menjadi learning designer yang mampu mengintegrasikan teknologi dengan nilai-nilai humanistik dalam pembelajaran. Kepala SMAN 10 Palembang juga menyampaikan apresiasi mendalam atas kontribusi tim Unsri. Menurutnya, kegiatan ini berhasil meningkatkan kepercayaan diri guru dalam memanfaatkan teknologi serta memperkaya strategi pembelajaran yang kreatif dan kontekstual. Melalui kegiatan pendampingan ini, Universitas Sriwijaya kembali menegaskan komitmennya dalam mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada aspek pengabdian kepada masyarakat. Selain memperkuat sinergi antara dunia akademik dan pendidikan menengah, kegiatan ini juga menjadi langkah nyata menuju pendidikan Indonesia yang unggul, adaptif, dan berdaya saing di era Revolusi Industri 5.0. (MRA/RD-09/10/2025).