Sabtu, 12 Okt 2024 - 17:42:00 WIB - Viewer : 5948
Transformasi Pendidikan : Dosen Pendidikan Matematika FKIP Unsri Bimbing Guru SMP Banyuasin
Untuk Ciptakan Bahan Ajar Digital STEM Berbasis Etnomatika
IST
Dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan matematika di tingkat SMP, Dosen Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Sriwijaya (Unsri) menggelar kegiatan pendampingan penyusunan bahan ajar digital STEM berbasis etnomatematika. Kegiatan ini diikuti oleh para guru matematika yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Matematika Kabupaten Banyuasin, berlangsung di aula SMAN Plus 2 Banyuasin III setempat dengan antusiasme yang tinggi dari peserta. Kegiatan ini berlangsung dari Agustus hingga Oktober 2024.
Kerangka Berpikir (Conceptual Framework)

Kerangka berpikir ini menggambarkan bagaimana perangkat pembelajaran yang dirancang dengan pendekatan STEM dan etnomatematika dapat saling mendukung untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih holistik, relevan, dan kontekstual. Integrasi ini tidak hanya meningkatkan pemahaman matematika siswa, tetapi juga menghubungkan mereka dengan budaya lokal dan memperkaya pendidikan secara keseluruhan.
Tujuan dan Metode Kegiatan
Kegiatan ini bertujuan untuk membantu para guru dalam merancang perangkat pembelajaran yang mengintegrasikan pendekatan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) dengan etnomatematika. Etnomatematika sendiri merupakan studi tentang cara budaya tertentu memahami dan menggunakan konsep-konsep matematika dalam konteks sehari-hari. Dalam hal ini, konteks kebudayaan Banyuasin menjadi fokus utama, diharapkan dapat memperkaya pengalaman belajar siswa.
Metode yang digunakan dalam pendampingan ini meliputi pemberian materi secara tatap muka dan pelatihan praktis dalam mendesain perangkat ajar. Para dosen, termasuk Dr. Somakim yang ahli di bidang etnomatematika, Dra. Indaryanti, M.Pd. yang fokus pada belajar dan pembelajaran serta teknologi pendidikan, Dr. Meryansumayeka yang menguasai teknologi pendidikan, Zuli Nuraeni, M.Pd. yang berfokus pada STEM, dan Rahma Siska Utari, M.Pd. yang mengeksplorasi kearifan lokal dalam pembelajaran, memberikan bimbingan langsung kepada para peserta. Untuk memastikan keberlanjutan, kegiatan ini juga dilanjutkan melalui platform Zoom Meeting dan grup WhatsApp, sehingga para guru dapat terus berdiskusi dan berbagi pengalaman dalam proses pengembangan perangkat ajar.
Hasil dan Temuan
Salah satu hasil yang paling mencolok dari kegiatan ini adalah antusiasme peserta yang tinggi. Para guru tidak hanya aktif dalam mendengarkan materi, tetapi juga berpartisipasi aktif dalam diskusi dan praktek. Banyak dari mereka berhasil menciptakan berbagai perangkat pembelajaran yang inovatif, mengangkat nilai-nilai budaya setempat ke dalam konteks matematika. Misalnya, beberapa perangkat ajar menggunakan cerita rakyat Banyuasin untuk menjelaskan konsep matematika, menjadikan pembelajaran lebih menarik dan relevan bagi siswa.
Temuan ini menunjukkan bahwa integrasi etnomatematika dalam pembelajaran dapat menjadi cara efektif untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep matematika. Dalam diskusi kelompok, para guru mengungkapkan bahwa dengan mengaitkan materi dengan budaya lokal, siswa menjadi lebih mudah memahami dan merasa terhubung dengan pelajaran.
Manfaat Kegiatan
Kegiatan ini tidak hanya bermanfaat bagi guru, tetapi juga memiliki dampak jangka panjang bagi siswa. Dengan menggunakan konteks budaya sebagai landasan, siswa dapat belajar matematika dengan cara yang lebih menyenangkan dan bermakna. Misalnya, konsep geometri dapat diajarkan melalui pola-pola yang ditemukan dalam tenun tradisional Banyuasin, yang membantu siswa memahami teori sambil menghargai budaya mereka. “Pembelajaran yang mengaitkan matematika dengan kebudayaan lokal membuat siswa lebih terlibat dan termotivasi,” kata Dr. Somakim, M.Pd. salah satu dosen pengajar. “Ini adalah langkah awal yang baik untuk menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga menghargai kearifan lokal.”
Testimoni Peserta
Salah satu peserta, seorang guru matematika, berbagi pengalamannya: “Saya sangat senang dan antusias mengikuti kegiatan ini. Saya mendapatkan banyak ilmu baru yang sebelumnya belum pernah saya pelajari. Mengaitkan matematika dengan budaya membuat saya merasa lebih percaya diri dalam mengajarkan materi kepada siswa.”
Rencana Tindak Lanjut
Rencana tindak lanjut dari kegiatan ini sangat penting untuk memastikan bahwa perubahan positif yang telah dimulai tidak berhenti di sini. Para penyelenggara berencana untuk melibatkan komunitas belajar di masing-masing sekolah. Hal ini bertujuan agar proses desain dan pengembangan perangkat ajar berbasis STEM dan etnomatematika dapat terus berlanjut dan ditingkatkan. Dengan adanya dukungan komunitas, diharapkan para guru dapat saling berbagi pengalaman dan strategi, serta terus berinovasi dalam pembelajaran mereka.
Kesimpulan
Kegiatan pendampingan ini menjadi contoh nyata bagaimana pendidikan dapat ditransformasi dengan mengintegrasikan teknologi dan budaya lokal. Dengan memperkenalkan perangkat pembelajaran yang berbasis STEM dan etnomatematika, Kabupaten Banyuasin tidak hanya meningkatkan kualitas pendidikan matematika, tetapi juga melestarikan kearifan lokal. Ini adalah langkah signifikan menuju pendidikan yang lebih holistik, relevan, dan bermakna bagi generasi masa depan.



