Minggu, 25 Des 2016 - 22:35:00 WIB - Viewer : 7112
Banjir Bima, Putri Sultan Salahuddin dan Peninggalan Kesultanan Bima bisa di Selamatkan
AMPERA.CO, Bima, NTB - Putri ke-7 Sultan Salahuddin, Siti Maryam (89 th), diungsikan ke Hotel Camelia, Bima, NTB, selama kota bima dilanda banjir. sementara berbagai naskah kuno dan peninggalan Kesultanan Bima yang disimpan di Museum Kebudayaan Samparaja, dalam keadaan selamat dari banjir karena berada dalam lemari kaca dan posisinya tinggi.
"Alhamdulillah bisa diselamatkan,” kata Dewi Ratna Muchlisa selaku keponakan Siti Maryam Sabtu, 24 Desember 2016.
Museum Samparaja dibangun pada 1987, yang pendiriannya dirintis oleh Siti Maryam. Museum Samparaja menyimpan berbagai peninggalan Kesultanan Bima, terutama naskah-naskah kuno. Museum ini juga sebagai sarana penelitian kebudayaan Bima. Statusnya adalah museum pribadi yang terbuka untuk umum.
Dikutip dari Asosiasi Museum Indonesia, koleksi yang dimiliki Museum Samparaja antara lain naskah-naskah lama berhuruf Arab dan berbahasa Melayu yang ditulis sekitar abad XVII-XIX Masehi. Naskah-naskah tersebut memuat berbagai ilmu pengetahuan dan sejarah pemerintahan Bima, hukum adat dan hukum Islam yang diterapkan di Bima, ilmu pertanian, kelautan, perbintangan, serta hubungan interaksi dengan daerah lain maupun pedagang dari negeri asing.
Koleksi lainnya berupa Kitab La Nonto Gama, yaitu kitab Al Quran yang ditulis dengan tangan yang merupakan peninggalan langsung Kesultanan Bima. Selain kronik, manuskrip atau naskah-naskah lama, museum itu mengoleksi benda etnografi budaya Bima, pakaian adat lama semasa Kesultanan Bima, pakaian pangkat-pangkat adat, pakaian upacara adat, pakaian pengantin, pakaian adat anak-anak, ukiran kayu dan perak, serta keramik-keramik lama.
Kondisi Kota Bima pasca banjir dikatakan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Nusa Tenggara Barat Lalu Moh. Faozal sangat parah. Menurut dia, situasi Bima sangat memprihatinkan dan harus bekerja keras untuk memulihkan keadaan. "Berat kerusakannya. Infrastruktur maupun fasilitas umum,” ujarnya.
Ia yang ke Bima sembari membawa bantuan selimut, handuk, dan logistik, melihat kondisi Pantai Lawata yang selama ini menjadi destinasi utama di Bima porak poranda. "Sepanjang pantai penuh limbah. Sangat mengganggu,” ucapnya.



