Sabtu, 08 Agu 2026 - 09:25:00 WIB - Viewer : 188

Singgah di Palembang, Ekspedisi Hutan Merdeka Suarakan Penyelamatan Orangutan Tapanuli

Ed : Trie Putra

Ampera.co
Pesepeda melintasi jembatan Ampera

AMPERA.CO, Palembang - Pada hari Kamis 6 Agustus 2026, komunitas pesepeda Chemonk berhenti sejenak di Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan. Namun perjalanan mereka masih panjang, karena harus melewati Provinsi Jambi, Padang, hingga Batang Toru, Sumatera Utara. Bagi mereka setiap kayuhan adalah doa, setiap peluh adalah pesan, bahwa hutan harus dilindungi dan orangutan Tapanuli harus diselamatkan.

Bersama Satya Bumi sebuah organisasi masyarakat sipil nirlaba di Indonesia yang berfokus pada kampanye, edukasi, dan advokasi lingkungan hidup serta hak asasi manusia,ekspedisi ini bukan sekadar perjalanan 1.700 kilometer. Ini adalah manifesto dari jalanan, suara dari roda, yang mengingatkan kita bahwa tanpa hutan, tanpa orangutan, tanpa alam yang sehat, manusia pun kehilangan rumahnya.

Perjalanan yang bertajuk Ekspedisi Hutan Merdeka ini sudah dimulai sejak Minggu, 2 Agustus 2026, dari Taman Pandang Monas Jakarta. Komunitas ini akan mengayuh ribuan kilometer dengan satu misi yakni menyuarakan perlindungan hutan dan menyelamatkan orangutan Tapanuli yang kini berada di ambang kepunahan.

Dengan membawa pesan kampanye “No Second Home, Restore Their Forest”, ekspedisi ini ditargetkan mencapai Batang Toru, Tapanuli, Sumatera Utara, tepat pada 19 Agustus 2026, bertepatan dengan Hari Orangutan Internasional.

Salah seorang komunitas pesepeda, Feri mengatakan aksi ini lahir dari semangat pesepeda yang terbiasa menggunakan sepeda bukan hanya sebagai olahraga, tetapi juga sebagai medium kampanye sosial. Dan juga terdapat jurnalis yang aktif di Car Free Day (CFD) Jakarta sejak dua tahun lalu menjadi penggerak awal. Dari sebuah giant banner di CFD bertuliskan “Selamatkan Orangutan Tapanuli”, ide ekspedisi ini berkembang menjadi gerakan nyata.

“Bencana di Sumatera belum sepenuhnya pulih. Karhutla, banjir, longsor, semua masih meninggalkan puing-puing. Recovery belum selesai, apalagi satwa liar yang habitatnya rusak. Itulah mengapa kami lakukan ekspedisi ini,” ujar mereka.

Perjalanan Menuju Palembang

Rute panjang lintas Sumatera bukan tanpa kendala. Dari menyeberangi Selat Sunda hingga melintasi Lampung, para pesepeda menghadapi cuaca ekstrem, panas terik akibat El Niño, dan ancaman kebakaran hutan dan dampaknya.

“Ketika riding, kami melihat dua-tiga kali kebakaran lahan. Panasnya luar biasa, sampai over-dehidrasi. Efeknya langsung terasa di tubuh kami. Tapi itu justru jadi pengingat betapa seriusnya ancaman bagi paru-paru Sumatera,” kata Fadlan, pesepeda lain.

Di Lampung, mereka menyaksikan hilir mudik kapal di perairan yang tercemar minyak dan oli. Di sepanjang jalan, warga lokal menyambut dengan membagikan buah seperti pisang, tanda kepedulian sederhana yang memberi energi baru. 

“Setiap 30-40 kilometer kami baru bisa istirahat. Karena ketika memasuki malam hari, kami harus istirahat dan melanjutkan kembali keesok paginya,” tambahnya.

Kampanye dan Pesan Lingkungan

Ekspedisi ini bukan sekadar perjalanan fisik. Setiap kota yang mereka singgahi menjadi panggung kampanye. Dari isu sampah plastik, zero karbon, hingga ajakan sederhana seperti tidak membuang puntung rokok sembarangan.

“Isu lingkungan harus kita kedepankan. Perilaku sehari-hari menentukan masa depan hutan. Kami ingin masyarakat sadar bahwa menjaga hutan bukan hanya tugas pemerintah, tapi kepedulian kita semua,” jelas Pesepeda lainnya, Mario.

Mereka juga menyoroti masalah serius di Batang Toru, izin tambang emas, proyek PLTA, dan geothermal yang mengancam ekosistem hutan lindung. 

“Cabut izin tanpa proses, pengalihan izin ke pemerintah, tapi masalah aslinya tidak selesai. Hutan tetap rusak,” kata mereka.

Orangutan Tapanuli adalah primata endemik yang hanya hidup di ekosistem Batang Toru, Sumatera Utara. Populasinya diperkirakan kurang dari 800, menjadikannya spesies kera besar semakin langka di dunia.

“Harapan kami sederhana yakni bisa melihat orangutan langsung di habitatnya. Tapi lebih dari itu, kami ingin masyarakat tahu bahwa jika hutan Batang Toru hilang, orangutan Tapanuli tidak punya rumah kedua. Mereka akan punah,” ujarnya.

Meski perjalanan penuh tantangan, dukungan warga lokal menjadi energi tersendiri. Dari Lampung hingga Palembang, mereka disambut dengan keramahan.

"Ada yang kasih pisang, ada yang kasih semangka. Itu membuat kami merasa tidak sendiri. Perjuangan ini adalah perjuangan bersama,” ucapnya.

Ekspedisi Hutan Merdeka bukan akhir, melainkan awal dari gerakan panjang. Komunitas Chemonk berharap kampanye ini menggugah kesadaran publik dan mendorong kebijakan nyata.

“Kami ingin pemerintah serius menegakkan perlindungan hutan. Jangan hanya cabut izin, tapi benahi masalah dari akar. Hutan adalah benteng terakhir. Restore their forest, no second home,” tandasnya.

    Simak Berita lainnya seputar topik artikel ini :

  • pali